Scroll untuk membaca artikel
Reza Gunadha | Fakhri Fuadi Muflih
Senin, 02 November 2020 | 13:04 WIB
Sejumlah petugas membersihkan puing Halte Bus Trans-Jakarta Tosari yang hangus saat kericuhan unjuk rasa menolak pengesahan Undang-Undang Cipta Kerja di Jalan MH. Thamrin, Jakarta, Jumat (9/10/2020). [Suara.com/Oke Atmaja]

Untuk di lantai dasar, akan menjadi tempat berlangsungnya kegiatan transportasi seperti biasa,  yakni proses penaikan dan penurunan pelanggan, ruang tunggu pelanggan dan lainnya.

Sementara untuk lantai atas, kata Jhony, rencananya digunakan untuk berbagai macam kegiatan  pemenuhan segala kebutuhan pelanggan. Di antaranya seperti  restoran, warung kopi, galeri, dan lainnya.

Proyek ini disebut Jhony diperkirakan akan rampung pada kuartal tiga tahun 2021.

"Dengan konsep ini, diharapkan pelanggan bisa merasakan pengalaman yang menyenangkan dan berbeda saat menggunakan layanan Transjakarta," kata dia.

Baca Juga: Dituduh Plagiat, Ini Alasan Staf Ahli Kominfo Unggah Video Narasi TV

Bukan demonstran

Sebelumnya diberitakan, Narasi TV mengunggah video kronologis kebakaran Halte Sarinah. Berdasarkan video itu, kemudian menyebar wajah-wajah yang diduga pelaku pembakar halte.

Berdasarkan temuan Narasi TV, para terduga pelaku pembakaran bukan berasal dari massa aksi penolak UU Cipta Kerja.

Sebelum itu, tudingan pembakar Halte Sarinah yang terjadi pada Kamis (8/10/2020) sempat ditujukan kepada para buruh dan mahasiswa yang berunjuk rasa di sekitar tempat kejadian perkara.

Para demonstran diduga menjadi pelaku pembakaran halte yang kerugiannya mencapai angka Rp 65 miliar ini.

Baca Juga: Pembakar Halte Terungkap Bukan Demonstran, Buruh: Mana BIN dan Polisi?

Narasi TV kemudian menayangkan penelusuran rekaman CCTV dan dokumentasi yang beredar di media sosial, guna menelisik lebih dalam siapa dalang di balik perusakan Halte Sarinah.

Load More