SuaraJakarta.id - Pasien Covid-19 dari daerah penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek) memenuhi Rumah Sakit di Jakarta. Bahkan jumlahnya mencapai satu per empat kasus aktif yang masih ditangani di ibu kota.
Menanggapi hal ini, Ketua Komisi E DPRD Jakarta meminta agar pasien itu segera dikembalikan ke daerah asalnya. Sebab jika dibiarkan, maka kapasitas RS di ibu kota akan semakin penuh.
"Kalau bisa dikembalikan ke daerah awal," ujar Iman Satria saat dihubungi wartawan, Kamis (21/1/2021).
Namun ia menekankan agar pasien bukan dipulangkan, tapi harus dirujuk ke RS yang sesuai dengan domisili pasien. Selain itu saat dikembalikan, prosesnya harus aman agar tak bermasalah ke depannya.
Selain itu, Pemprov DKI harus menjalani komunikasi yang intensif dengan pemerintah daerah atau rumah sakit rujukan pasien itu sendiri.
"Tapi bukan dilepaskan, dibantu koordinasi kalau memang gak ada dibantu gitu," jelasnya.
Kendati demikian, Iman mengakui masyarakat cenderung memilih perawatan di ibu kota. Pihak fasilitas kesehatan pun tak boleh menolaknya jika memang ada pasien dari daerah lain.
"Memang hal ini tak bisa ditampikkan karena semua masyarakat itu harus bisa dibantu. Ya tidak pilih-pilih siapa orangnya," tuturnya.
Politisi Gerindra ini menyatakan meski perlu diperhatikan, tapi ada ketentuan yang harus dijalani. Jika dibiarkan, maka fasilitas kesehatan di Jakarta akan semakin penuh.
Baca Juga: 1.500 Makam Disiapkan Pemprov DKI untuk Jenazah Covid-19 di TPU Rorotan
"Kita berurusan dengan nyawa, tapi memang harus ada juga kriteria-kriteria yang bisa diterapkan," pungkasnya.
Diketahui, kapasitas rumah sakit rujukan COVID-19 diperkirakan hanya tersisa 13 persen.
"Rumah sakit di Jakarta. Kapasitas tersisa 13 persen Iagi untuk menampung pasien COVlD-19," tulis akun resmi Pemprov DKI Jakarta @dkijakarta, pada Selasa (19/1/2021).
Rinciannya, angka penggunaan tempat tidur di rumah sakit rujukan atau Bed Occupancy Rate (BOR) di DKI sebanyak 87 persen.
Angka ini meroket karena rumah sakit COVID-19 di Jakarta melayani warga lintas provinsi. Jika hanya memperhitungkan warga Jakarta maka angkanya hanya sebesar 63 persen.
Berita Terkait
-
Kasus Masih Meningkat, RS Saiful Anwar Tambah Ranjang Pasien Covid-19
-
LIVE STREAMING: Kupas Tuntas Covid-19 dan Paru-paru
-
1.500 Makam Disiapkan Pemprov DKI untuk Jenazah Covid-19 di TPU Rorotan
-
LIVE: Gerakan Donor Plasma, UMKM Digital dan Solidaritas Bencana
-
Rekor! Banyak Pasien COVID-19 Sembuh di Depok
Terpopuler
- Korupsi Rp18,7 Miliar, Wakil Bupati Indramayu Resmi Ditahan, Lucky Hakim Masih Bungkam
- Dingatkan Teddy Segera Akhiri Pidato, Prabowo: Letkol Ngatur Presiden
- Cetak 6 Gol dalam 6 Laga Bersama Persija, Shin Tae-yong Angkat Topi untuk Alexander Jeremejeff
- Sepatu Lari Buatan Lokal Unjuk Gigi di Berlin dan Chicago Marathon
- Bisakah Bedak Marcks dan Air Mawar Viva untuk Mengunci Makeup? Begini Caranya
Pilihan
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
Terkini
-
Bidik Pertumbuhan Jangka Panjang, BRI Kembali Siapkan Buyback Saham Rp1 Triliun
-
LPSK Hitung Restitusi Rp1,07 Triliun untuk 5.102 Korban Kasus Dana Syariah Indonesia
-
Trilliun Group Raih Superbrands Indonesia 2026, Lima Merek Produk Bangunan Dapat Pengakuan
-
Metode Penghijauan Miyawaki Diterapkan di Pesisir Jakarta, Apa Keunggulannya?
-
Turis Malaysia hingga Brunei Kepincut Produk Lokal, Pesisir Jakarta Jadi Magnet Wisata Belanja