SuaraJakarta.id - Polarisasi politik yang tersisa usai pemilihan presiden (pilpres) beberapa tahun silam masih diwariskan hingga kini. Sebutan kadrun dan cebong yang ditujukan kepada pendukung capres kala itu hingga kini terus dilestarikan di media sosial.
Pun kekinian orang-orang yang kritis kepada pemerintah dicap sebagai kadrun, sebaliknya bagi yang pro dicap sebagai cebong.
Tak ayal penyematan label tersebut pun pernah dialami Najwa Shihab hingga mantan Menteri Kelautan Susi Pudjiastuti hingga kekinian ditujukan kepada mantan Aktifis Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Tsamara Amany.
Merespons makin runcingnya fenomena tersebut, Tokoh Nadhlatul Ulama (NU) Nadirsyah Hosen alias Gus Nadir mengaku tak habis pikir dengan polarisasi yang kini makin menjadi. Bahkan kepada sosok yang idealis seperti Najwa Shihab, Susi Pudjiastuti hingga Tsamara Amany yang dicap kadrun.
"Jadi gini, 3 orang ini: Bu Susi, Najwa dan Tsamara mendadak dikadrunkan. Padahal mereka gak pernah minta Jokowi mundur, nggak dukung khilafah atau 212 dan pakai jilbab aja enggak," heran Gus Nadir melalui akun twitternya yang dikutip Suarasurakarta.id.
Tak hanya itu, Gus Nadir menganggap kalangan yang memberikan label-label tersebut sebagai fasis.
"Jadi, kenapa? Karena dianggap melawan arus polarisasi bangsa either you’re with us or with kadrun. Fasis!" sambung Gus Nadir.
Hingga akhirnya cuitan Gus Nadir tersebut menarik perhatian warganet yang sebagian besar dari mereka menyampaikan keresahan serupa.
"Kenapa fenomena labeling seperti ini baru terjadi di rezim ini? Kenapa beda pikiran menjadi sesuatu yang haram? Bukankah demokrasi mensyaratkan adanya beda pikiran? Tidak ada lagi kehangatan sebagai warga negara yang bisa berbeda pendapat, berdiskusi bahkan berdebat. Semuanya mesti dalam 1 pikiran. Set back," ucap akun @ToroMoha**.
Baca Juga: Siapa Tsamara Amany? Politisi yang Mundur dari PSI hingga Dicap Kadrun
Respon lain pun disampaikan warganet yang menyebut jika sampai hari ini tidak ada satu tokoh pun yang bisa menyelesaikannya.
"Berbeda pandangan politik sebenarnya hal biasa di negara menapun. Tapi labeling kadrun atau kampret atau apapun itu terhadap lawan politik saya pikir salah. Akhirnya dari 2014 sampai sekarang kita terpolarisasi. Dan sampai sekarang tidak ada satu tokohpun yang bisa menyelesaikan," ungkap akun @SutanHasi**.
Tak hanya itu, ada juga warganet yang menilai, hingga hari ini polarisasi politik telah sampai pada tahap yang memprihatinkan.
"Mengkritisi kebijakan pemerintah dianggap kadrun, mengapresiasi kinerja pemerintah dianggap cebong. Polarisasi sudah mencapai tahap yang mengkhawatirkan," kata akun @hans_wira**.
Sementara itu, warganet lainnya mencurigai adanya desain di balik layar yang melanggengkan polarisasi politik.
"Dibuat jadi terpolarisasi jadi dua ekstrim. Mungkin ini yang diinginkan pihak-pihak tertentu di belakang layar?," tandas akun @_saty**.
Tag
Berita Terkait
-
Siapa Tsamara Amany? Politisi yang Mundur dari PSI hingga Dicap Kadrun
-
Tsamara Amany Tandai Akun Humas Polri Soal Serangan Rasial, Ini Reaksi Polri
-
Heran Susi Pudjiastuti Hingga Najwa Shihab Dikadrunkan, Gus Nadir: Padahal Mereka Nggak Pernah Minta Jokowi Mundur
-
Tsamara Amany Diserang Usai Keluar dari PSI, Polisi Turun Tangan
-
Keluar dari PSI, Tsamara Amany Langsung Diserang, Polisi: Pasti Bakal Dicek, Diperdalam
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Konser Andrea Bocelli di Borobudur Tetap Digelar, KIBBM Siapkan Tablig Akbar Penolakan
- Kenapa Deretan Musisi Mundur dari Rans Carnival Jogja? Ini Kronologinya
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Sidang Febrie Adriansyah Berlanjut, Maphi Soroti Dugaan Intervensi Kasus BTS 4G
-
Dari Pilates hingga Padel Tepi Laut, Ini Cara Asyik Isi Akhir Pekan di Pesisir Jakarta
-
Ingin Perbarui Tampilan Rumah? 8 Merek Home and Living Hadir di IDD
-
Menikmati Jogja Lewat Rasa dan Sejarah: Dari Kuliner Kampung hingga Meditasi Jiwa
-
IVES 2026 Soroti EEC, Pengukuran Dampak Ekonomi Industri Event