Scroll untuk membaca artikel
Fabiola Febrinastri | Iman Firmansyah
Kamis, 29 September 2022 | 10:42 WIB
Alat Gamma Knife dari Siloam Hospitals Lippo Village. Setiap bulannya, rata rata terdapat 5 pasien yang memanfaatkan alat ini guna kepentingan penyembuhan. (Dok: Siloam Hospital)

- Mampu mengobati tumor di daerah yang tidak tercapai oleh pisau bedah (deep seated tumor).

- Sesudah tindakan dapat melakukan aktivitas rutin seperti biasa. 

“Kita jadi yang pertama karena kita sudah melayani pasien sejak 2012. Artinya dari segi pengalaman, Gamma Knife Center Indonesia (GKCI) di Siloam Lippo Village (GKCI) adalah yang pertama Di Indonesia, walaupun mesinnya namun yang tak kalah penting adalah dokter yg melakukan treatment yang memegang peranan sangat penting. Jika bicara data, semakin banyak kasus yang kita tangani maka kasus yang kesekian akan jadi lebih baik dibandingkan waktu pertama kali menangani. Untuk Gamma Knife, skill mempunyai peran penting. Keunggulan kita di Siloam adalah pengalaman ,” terang dr Denny.

Ia menjelaskan, dalam metode Gamma Knife harus ada dua bidang yang wajib, yaitu dokter onkologi radiasi dan dokter bedah saraf. “Ini keunikan Gamma Knife, berbeda dengan bidang kedokteran lain yang biasanya ditangani satu bidang dokter, tapi Gamma Knife itu punya tingkat kerumitan dan otak itu kompleks, jadi tidak bisa dokter saraf sendirian atau dokter radiasi sendirian, satu memikirkan keamanan radiasinya, sementara fungsi saraf dan fungsional dari otak ditentukan oleh bedah saraf,” ucapnya.

Baca Juga: Dinkes Pekalongan Lakukan Deteksi Dini Penyakit Paru Obstruktif Kronis

Dr Denny menuturkan sejak 10 tahun terakhir, GKCI di Siloam Hospital Lippo Village telah menangani lebih Dari 1200 pasien atau 100 pasien dalam satu tahun dalam penggunaan metode Gamma Knife. “Usia termuda, kita pernah menangani pasien umur 3 tahun,” ucapnya.

Dalam rentang waktu tersebut juga, ada beberapa kendala dan tantangan dalam menangani pasien dengan Gamma Knife seperti banyak orang yang takut dengan radiasi. “Yang penting adalah miss leading information bahwa radiasi itu bahaya, buat saya kendala paling sulit adalah menjelaskan ke pasien bahwa radiasi yang dilakukan dengan aman itu aman loh, peran media disini sangat penting karena penyampaian informasi kalau radiasi itu ngga seperti radiasi nuklir militer, penggunaan radiasi di bidang Kesehatan saat ini itu sangat lazim selama dilakukan dengan cara yang baik itu akan aman,” ungkap dr Denny.

Menurutnya, Gamma Knife juga sudah melakukan banyak inovasi diantaranya penentuan dosis hingga teknik cara pemberian. “Jadi radiasi itu banyak kemajuan yang tidak terlihat orang awam, misalnya radiasi itu bisa menentukan target radiasi kalau kita memberi tanda apa yang perlu di radiasi, lalu dosis bisa kita atur, kemajuan banyak berubah dari dosis preskripsi, bisa jadi yang sekarang kita anut berbeda dari 10 tahun yang lalu dengan kemajuan mesin Gamma Knife maka radiasi bisa punya ruang memberikan dosis lebih besar pada tumor dengan lebih aman pada otak sehat,” imbuh dr Denny.

Sementara itu, ada beberapa kontraindikasi dari penanganan tumor otak menggunakan Gamma Knife, seperti ukuran tumor yang terlalu besar dan keadaan pasien yang berisiko tinggi seperti pasien dengan tumor yang menekan saluran cairan di otak sehingga tekanan di dalam kepala begitu besar. “Tetapi itu bukan kontraindikasi yang absolut, lebih ke relatif, sedangkan kalau ukuran tumor besar sekali, lalu dengan Gamma Knife hasilnya kurang optimal maka perlu dilakukan Dalam beberapa tahap agar hasil nya baik,” kata dr Denny.

Baca Juga: Kemenkes Ubah Skema Rawat Inap Pasien BPJS Kesehatan Jadi Kelas Rawat Inap Standar, Apa Saja Fasilitasnya?

Load More