"Alhamdulillah dalam perkembangannya, pemilik ruko menawarkan kami untuk membeli gedung ini dibanding menyewa. Sempat kebingungan juga pengurus untuk cari donatur mendanai pembelian lokasi ini, namun akhirnya jawaban bantuan datang dari BJ Habibie yang kala itu menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi (Menristek). Dia beli rukonya dan dihibahkannya ruko ini kepada Yayasan Karim Oei," kata Yusman menceritakan latar belakang pembangunan Masjid Lautze.
Terkait pemilihan warna hingga bentuk Masjid Lautze yang terkesan mirip atau mengikuti ornamen Klenteng, rupanya memang sebuah kesengajaan.
Pengurus Masjid Lautze ingin agar warga beretnis Tionghoa yang baru mau mengenal Islam saat bertandang ke gedung empat lantai tersebut tidak merasa canggung.
Untuk interior ruangan bagian dalam masjid didominasi warna putih. Setiap sisi tembok diberi ornamen lis kayu berwarna merah yang dibentuk menyerupai kubah.
Tidak hanya melakukan penyesuaian dari segi warna, berbagai ornamen khususnya kaligrafi dengan aksara Mandarin pun cukup banyak menghiasi bagian dalam gedung.
Ornamen kaligrafi dengan aksara China didapatkan secara sporadik. Ada yang merupakan hasil buah tangan dari pengunjung yang datang dan ada juga yang dibawa langsung oleh Ali Karim Oei.
Terbukti dengan penyesuaian yang dilakukan Masjid Lautze itu, semakin banyak warga Indonesia beretnis Tionghoa yang berkunjung dan mulai belajar mengenal Islam hingga memutuskan mengambil keputusan jadi mualaf.
Mualaf Tionghoa Perdalam Islam
Kekinian Masjid Lautze, Jakarta Pusat, menjadi pilihan warga Tionghoa yang ingin mualaf untuk mendalami ajaran Islam karena mereka merasa nyaman di tengah komunitasnya.
Baca Juga: Mengenal Masjid Lautze, Saksi Bisu Ribuan Etnis Tionghoa Hijrah Jadi Mualaf
Bahkan momentum Ramadhan menjadi pilihan mereka untuk menyatakan diri sebagai Muslim dengan bersyahadat di Masjid Lautze.
"Mereka merasa tidak asing dan nyaman. Ketika masuk ke sini ya mereka tidak merasa datang ke masjid, seperti datang ke Klenteng saja. Ornamen-ornamennya juga mendukung, banyak kaligrafi-kaligrafi yang langsung kami datangkan dari Tiongkok," kata Humas Masjid Lautze Yusman Iriansyah yang ditemui di masjid tersebut, Sabtu (1/4/2023).
Yusman mengatakan, banyak orang Tionghoa yang merasa nyaman menjadi mualaf di Masjid Lautze. Karena banyak saudara dan komunitas di sana, juga merasa sama-sama baru menjadi mualaf, sehingga mereka tidak merasa malu dan canggung.
Seperti di hari ke-10 Ramadhan 1444 H, tiga orang menjadi mualaf di Masjid Lautze.
"Memang kalau Ramadhan lebih ramai, tiap minggu bisa lebih dari lima orang, kalau hari biasa mungkin hanya sekitar dua sampai tiga orang. Sebagian besar memang datang dari keturunan Tionghoa," kata Yusman.
Yusman menambahkan, Masjid Lautze menyediakan pengajar bagi mualaf yang mau belajar mengaji dan mendalami Islam. Seringkali juga ada beberapa relawan yang datang secara sukarela untuk membantu.
Berita Terkait
-
Perjalanan Cinta Roberto Carlos: Punya 11 Anak dari 7 Wanita Berbeda dan Menikah 4 Kali
-
Penjelasan Lengkap Roberto Carlos Bantah Masuk Islam: Saya Tidak Suka
-
Roberto Carlos Dikabarkan Masuk Islam, Ini 5 Pemain Brasil yang Putuskan Mualaf
-
Apakah Boleh Jadi Mualaf karena Menikah? Begini Hukumnya dalam Islam
-
Jennifer Coppen Jadi Sorotan, Apa Pahala Mengajak Orang Masuk Islam?
Terpopuler
- WNI Tentara Bayaran Rusia, Rendi Apriyanto Sempat Kirim Duit ke Ortu Tapi Rekening Diblokir
- 5482 Korban Keracunan MBG, Viral Ucapan Wapres Gibran: Bawa Bekal dari Rumah, MBG Jangan Dimakan
- Kekayaan Jusuf Hamka yang Dilaporkan Hary Tanoesoedibjo ke Polisi
- Jaksa Agung Burhanuddin Muncul di Istana, Bantah Bakal Dilantik jadi Jampidum
- 3 Sepatu Lokal Paling Nyaman dan Empuk untuk Jalan Terbaik Menurut Review
Pilihan
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
-
Pemain Timnas Indonesia Dapat Ancaman Pembunuhan
Terkini
-
Kawasan Pesisir Jakarta Makin Terhubung, Akses Jadi Pertimbangan Pelaku Usaha
-
BRI Peduli Sahabat Disabilitas Bekali Peserta dengan Pelatihan dan Kesempatan Pemagangan
-
Tips Memilih Sekolah dengan Padukan Fasilitas Akademik dan Pengembangan Karakter Siswa
-
Swiss-Belresidences Kalibata Hadirkan Semangat Local Heart Lewat CSR dengan Sahabat Anak Cijantung
-
Sepeda dari BRI Peduli Ini Antar Mahesa ke Sekolah, Tidak Lagi Terhalang Banjir Rob