Lanjutnya jika biasanya tanah di kawasan tersebut dibandrol dengan harga per meternya mencapai 30 juta rupiah ini hanya Rp 15 hingga Rp 17 juta per meter.

"Karena di satu sisi orang butuh uang juga, butuh cashflow. Di sisi lain, ada pembeli yang siap ambil," ujarnya.
Jika dibandingkan antara kuartal kenaikan dan jumlah keluarga urutan penurunan indeks harga properti residensial maka terlihat jelas jika penurunannya jauh lebih tajam dibanding kenaikannya sendiri.
Misalnya pada kuartal pertama di tahun 2020 ini terjadi penurunan jumlah penjualan sekitar 43,19 persen.
Baca Juga:5 Hal yang Mesti Diperhatikan Sebelum Membeli Rumah
Sementara untuk kenaikan yang sendiri pada kuartal pertama di tahun ini hanya berkisar 1,68 persen.
![Pembangunan rumah subsidi di Kabupaten Ungaran, Provinsi Jawa Tengah. [Antara/Aditya Pradana]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2016/03/11/o_1adj5rimbdg319781ur26oq9ila.jpg)
Hal serupa juga terjadi kembali di kuartal kedua tahun ini di mana penurunan terjadi sekitar 25,60 persen. Sementara untuk kenaikan yang sendiri hanya berada di Kisaran angka 1,59 persen.
Sementara itu disampaikan oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Real Estate Indonesia (REI), Totok Lusida jika penurunan harga properti sekunder ini juga disebabkan salah satunya karena upaya pasar dalam mengecek harga.
“Yang secondary mungkin ada penurunan. Tapi kadang-kadang dia hanya untuk cek market saja. Kepingin tahu harganya berapa sih,” ujarnya Selasa (22/9/2020).
Baca Juga:Selain Harga, Berikut 5 Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Membeli Rumah