facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Sebut Istana Kena Prank Gatot, Rocky Gerung: Manuver Politik Luar Biasa

Agung Sandy Lesmana | Farah Nabilla Jum'at, 13 November 2020 | 07:15 WIB

Sebut Istana Kena Prank Gatot, Rocky Gerung:  Manuver Politik Luar Biasa
Pentolan KAMI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo. (YouTube Refly Harun Official).

"Dia tetap menerima Bintang Mahaputeranya, tapi dia tidak hadir. Ini menurut saya cara berpikir dan manuver politik yang luar biasa."

SuaraJakarta.id - Pentolan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo menjadi sorotan karena memilih tak hadir ke Istana saat sejumlah tokoh mendapat penghargaan Bintang Mahaputera dari Presiden Joko Widodo. Meski absen ke Istana, penghargaan itu tetap diberikan Jokowi kepada eks Panglima TNI itu.

Pengamat politik Rocky Gerung pun menjadi salah satu orang yang menyoroti soal absennya Gatot saat diundang Jokowi ke Istana. Dia menilai cara Gatot dengan menerima penghargaan tanpa hadir di Istana adalah sebuah manuver politik yang cerdas. Strategi yang diterapkan Gatot Nurmantyo cukup cerdik kala menerima penghargaan Bintang Mahaputra dari Jokowi.

Meminjam bahasa populer warganet, Rocky mengistilahkan cara Gatot sedang mengerjai alias me-ngeprank pihak Istana.

"Dia tetap menerima Bintang Mahaputeranya, tapi dia tidak hadir. Ini menurut saya cara berpikir dan manuver politik yang luar biasa," kata Rocky dilansir Suara.com dari tayangan YouTube-nya, Kamis (12/11/2020).

Baca Juga: Mahfud MD Mungkin Jadi Menteri Pertama yang Kena Reshuffle, Ini Kata Rocky

Rocky menjelaskan, sikap Gatot itu secara tidak langsung menunjukkan syarat-syarat jika oposisi diundang ke Istana.

"Gatot tidak akan hadir, dan memang tidak hadir karena Gatot juga sebetulnya mau mengatakan kalau 'Saya mau hadir persyaratannya A,B,C,D'," kata Rocky.

Ia menuturkan seharusnya pihak Istana, terutama Menkopolhukam Mahfud MD, bisa membaca sinyal itu dengan membebaskan terlabih dahulu para tokoh Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia yang ditangkap, kawan seperjuangan Gatot.

"Kalau Mahfud bisa baca sinyalnya Pak Gatot mestinya sehari sebelum Pak Gatot diundang ke Istana, mestinya tanggal 8 sebelum Habib Rizieq muncul, 3 tokoh KAMI itu dibebaskan," ujar Rocky.

Namun sinyal itu dinilai Rocky tak terbaca oleh Istana. Buntutnya, Gatot pun melancarkan strateginya dengan tetap menerima penghargaan namun tak hadir ke Istana.

Baca Juga: Surat Perintah Stafsus, Refly Harun: Luar Biasa, Presiden Saja Gak Bisa

"Saya anggap itu langkah yang cerdik dari seorang mantan panglima yang ilmu kepanglimaannya masih ada di kepala," jelas Rocky yang menyebut bahwa Gatot berhasil memenangkan perang hanya dalam pertempuran kecil.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait