- Galeri Budaya Tionghoa Indonesia dan Irama Nusantara menyelenggarakan pameran sejarah musik populer bertajuk Popularia di Jakarta Utara hingga 21 Februari 2027.
- Pameran menampilkan kontribusi tokoh Tionghoa seperti Tio Tek Hong dalam memproduksi rekaman piringan hitam komersial sejak masa Hindia Belanda.
- Pengunjung dapat melihat koleksi arsip industri rekaman serta menikmati fasilitas mendengarkan musik dari berbagai periode era yang berbeda.
SuaraJakarta.id - Mendengarkan lagu favorit kini cukup melalui ponsel. Namun, pernahkah terpikir bagaimana masyarakat Indonesia menikmati musik ketika internet, layanan streaming, bahkan kaset belum dikenal luas?
Jawabannya membawa kita pada sejarah industri rekaman yang berkembang sejak masa Hindia Belanda. Dalam perjalanan tersebut, sejumlah tokoh Tionghoa ternyata memiliki kontribusi penting yang tidak selalu dikenal oleh pendengar musik masa kini.
Kisah tersebut menjadi bagian utama pameran Popularia: The Untold Story Behind Popular Music in Indonesia di Galeri Budaya Tionghoa Indonesia (GBTI), Pantjoran PIK, Jakarta Utara.
Pameran yang berlangsung hingga 21 Februari 2027 ini merupakan hasil kolaborasi GBTI dengan Irama Nusantara, sebuah inisiatif pengarsipan musik populer Indonesia.
Baca Juga:Raisa, Nadin Amizah hingga Sal Priadi Siap Ramaikan Sunset di Pantai 2026
Di dalam ruang pamer, pengunjung disuguhi koleksi piringan hitam, dokumentasi sejarah industri rekaman, serta berbagai materi mengenai perkembangan kebiasaan masyarakat mendengarkan musik.
Salah satu tokoh yang diperkenalkan adalah Tio Tek Hong, pengusaha rekaman di Batavia pada awal abad ke-20.
Melalui tokonya, Tio Tek Hong memproduksi rekaman komersial musisi lokal dengan media piringan hitam berbahan shellac. Musik Melayu, keroncong, dan stambul termasuk jenis musik yang direkam dan diedarkan kala itu.
Jejak industri tersebut berlanjut melalui nama-nama seperti Tan Tik Hing di Semarang dan Lie Liang Swie di Surabaya.
Kurator GBTI Mitha Budhyarto menjelaskan, sejarah musik membantu masyarakat melihat kontribusi berbagai kelompok dalam membentuk kehidupan budaya Indonesia.
Baca Juga:Dari Parenting hingga Drone, Dua Kreator Ungkap Pesona Pesisir Jakarta
“Musik dapat menjadi pintu masuk untuk melihat bagaimana masyarakat Tionghoa Indonesia hadir dan berkontribusi dalam kehidupan budaya di Indonesia,” katanya.
Pengunjung Bisa Mendengarkan Musik dari Berbagai Era
Salah satu daya tarik Popularia terletak pada fasilitas Listening Booth. Pengunjung tidak hanya membaca sejarah, tetapi juga dapat mendengarkan musik yang mewakili perjalanan berbagai periode.
Pameran turut memperkenalkan Gambang Kromong, Pop Mandarin, karya Teresa Teng, hingga perkembangan budaya karaoke.
Nama-nama pelaku industri musik Indonesia juga mendapat perhatian, termasuk Amin “Cengli” Wijaya dari Musica Studios, Eugene Timothy dari Remaco, serta Johanes Soerjoko dari Aquarius.
Periset Irama Nusantara Ignatius Aditya Adhiyatmaka mengatakan, dokumentasi rekaman membantu masyarakat melihat hubungan antara perkembangan teknologi dan perubahan selera musik.