Scroll untuk membaca artikel
Arief Apriadi
Senin, 10 Mei 2021 | 11:51 WIB
Ilustrasi penjaja jasa penukaran uang jelang lebaran (Suara.com/Adi Rianto)

"Kalau kemarin kami kan berdua, sehari dapat Rp43 juta dari pagi jam 8 sampai magrib. Kita punya bos bawa berapa aja nggak dipatok. Upahnya 5 persen," papar Mesri.

Perempuan 37 tahun itu mengaku, sudah rutin setiap tahun dirinya membuka jasa penukaran uang menjelang Lebaran.

Meski tahun ini masih dalam situasi pandemi Covid-19, omset yang dihasilkan disebutnya tak terlalu berbeda dengan momen Lebaran dalam situasi normal.

"Kalau ramai ya tetap ramai, nggak ada bedanya sama situasi normal. Cuma yang beda paling kalau pandemi pecahan rupiah yang paling laris itu Rp2 ribu dan Rp5 ribuan. Kalau dulu itu pecahan Rp10 ribu dan Rp20 ribu," bebernya.

Baca Juga: Resep Kue Lidah Kucing Susu dan Cokelat Super Renyah

Mesri cuma menjajakan jasa penukaran uang dengan membuka lapang sederhana. Dia cuma menyediakan kursi untuk memajang pecahan uang baru mulai Rp2 ribu hingga Rp20 ribu.

Dia pun hanya duduk di pinggir jalan. Setiap harinya, dia bersama rekannya membawa sekira Rp120 juta uang pecahan Rp2-Rp20 ribu itu.

Dengan uang yang cukup banyak dan mencolok di pinggir jalan, Mesri sebetulnya merasa khawatir jadi sasaran perampokan. Agar merasa aman, dia memilih tempat yang strategis dan ramai.

"Ada juga rasa takutnya, tergantung yang di atas, udah risiko. Biar aman sengaja ngambil tempat di samping kantor DPRD ini, kan masih agak aman lah," katanya sambil menghitung uang pecahan Rp5 ribu.

Sementara itu, Zakiah salah satu warga yang menukarkan uang pecahan Rp2 ribu kepada Mesri mengaku, terbantu adanya jasa penukaran uang di pinggir jalan itu. Hal itu, lantaran tak perlu repot datang dan antre ke bank.

Baca Juga: Eks Pentolan FPI Ditangkap, Gara-gara Provokasi Orang Untuk Mudik

"Iya kebantu sih, kalaupun lebih mahal Rp10 ribu ya nggak papa," katanya.

Load More