SuaraJakarta.id - Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dwi Oktavia mengatakan pihaknya saat ini sedang mengkaji kemungkinan perlunya pemberian vaksinasi Covid-19 dosis keempat dan seterusnya. Pasalnya, efektifitas vaksin disebutnya relatif menurun dalam periode tertentu.
Dwi mengatakan, dalam pemberian vaksin untuk mencapai kekebalan komunal atau herd immunity, ada sejumlah faktor yang perlu diperhatikan. Di antaranya adalah cakupan vaksinasi dan lama efektifitasnya dalam tubuh seseorang.
Sejauh ini, diketahui ternyata vaksin Covid-19 memiliki efektifitas yang menurun seiring berjalannya waktu. Karena itu, pemerintah memberikan dosis kedua dan ketiga demi menjaga imunitas tetap tinggi dari virus corona.
"Itu yang terus kita menunggu nanti. Setelah ada vaksin booster ketiga apakah akan ada lagi booster berikutnya setelah periode tertentu atau tidak dalam rangka menjaga kekebalan antibodi cukup tinggi, sehingga mengurangi resiko sakit berat," ujar Dwi saat dikonfirmasi, Kamis (17/3/2022).
Kondisi untuk mencapai herd immunity dalam penyebaran Covid-19 berbeda dengan kasus lainnya. Ia mencontohkan pemberian vaksin pada virus campak pada anak.
"Contoh-contoh vaksin pada anak kan ada vaksin yang perlu diulang lima tahun sekali. Nah itu konsep herd imnunity-nya cukup enak tuh, bisa diterjemahkan seperti herd immunity yang dipahami secara umum selama ini," tuturnya.
Penurunan efektifitas vaksin Covid-19 terjadi karena Covid-19 adalah virus yang terus bermutasi dan menolak untuk musnah. Namun, dengan perkembangan teknologi, manusia bisa berupaya mengimbanginya, salah satunya dengan membuat vaksin.
"Makanya dia berusaha menghasilkan generasi virus atau varian virus baru yang lebih tahan terhadap ancaman lingkungan, ancaman obat seperti itu sifat nature (alami) dari virus sendiri," ucap Dwi.
Kendati demikian, Dwi menyatakan vaksinasi Covid-19 harus terus dijalankan. Apalagi vaksin sudah terbukti mampu menghindarkan yang terpapar, khususnya pemilik penyakit bawaan atau komorbid dari gejala berat.
Baca Juga: Sebanyak 1.477 Pasien Covid-19 di DKI Meninggal Sejak Muncul Varian Omicron
"Saat ini kasus yang menjadi berat memang relatif pada orang yang riwayat vaksinasinya enggak lengkap atau bahkan ada yang belum vaksin sama sekali. Sehingga semakin mendukung pembuktian bahwa memang kita harus vaksin," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Selamat Tinggal Jay Idzes? Sassuolo Boyong Amunisi Pertahanan Baru dari Juventus Jelang Deadline
- Kakek Penjual Es Gabus Dinilai Makin 'Ngelunjak' Setelah Viral, Minta Mobil Saat Dikasih Motor
- 4 Calon Pemain Naturalisasi Baru Era John Herdman, Kapan Diperkenalkan?
- 26 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 31 Januari 2026: Buru Gullit 117 OVR dan Voucher Draft Gratis
- Muncul Isu Liar Soal Rully Anggi Akbar Setelah Digugat Cerai Boiyen
Pilihan
-
Setiap Hari Taruhkan Nyawa, Pelajar di Lampung Timur Menyeberang Sungai Pakai Getek
-
Mundur Berjamaah, Petinggi OJK dan BEI Kalah dengan Saham Gorengan?
-
Kisah Pilu Randu Alas Tuksongo, 'Raksasa yang Harus Tumbang' 250 Tahun Menjadi Saksi
-
Insentif Mobil Listrik Dipangkas, Penjualan Mobil BYD Turun Tajam
-
Pasar Modal RI Berpotensi Turun Kasta, Kini Jepang Pangkas Rekemondasi Saham BEI
Terkini
-
Cek Fakta: Tautan Penghapusan Utang Pinjol dari OJK yang Viral, Ini Faktanya!
-
Cek Fakta: DPR Tunda Pembahasan RUU Perampasan Aset hingga Tahun Depan, Ini Faktanya
-
Amalan Malam Nisfu Syaban yang Dianjurkan Ulama, Lengkap dengan Dalil dan Penjelasannya
-
Jangan Terlewat Malam Nisfu Syaban, Ini Doa-Doa yang Dianjurkan untuk Rezeki, Jodoh dan Kesehatan
-
Merlynn Park Hotel Jakarta Sajikan Iftar Mewah lewat "Treasure of Asian Taste"