Rizki Nurmansyah
Jum'at, 09 September 2022 | 17:01 WIB
Dokumentasi - Pelayan warteg mengemas pesanan pengunjung di Serpong, Tangsel, Selasa (27/7/2021). [SuaraJakarta.id/Wivy Hikmatullah]

SuaraJakarta.id - Dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) turut dirasakan para pemilik usaha warung Tegal (Warteg). Akibatnya, harga menu makan di warteg pun akan naik.

Ketua Komunitas Warteg Nusantara (Kowantara), Mukroni mengatakan, kenaikan tersebut tidak akan melihi 20 persen. Agar pelanggan yang didominasi masyarakat ekonomi ke bawah tidak terbani.

"Misal telur Rp5 ribu jadi Rp6 ribu, naik 20 persen," kata Mukroni di Jakarta, Jumat (9/9/2022).

Lebih lanjut, Mukroni mengatakan, harga tempe tidak dinaikkan. Hanya saja ukurannya yang diperkecil.

"Yang tadinya setebal buku tulis, sekarang bisa setipis kartu ATM," katanya.

Pemilik usaha warteg menginginkan agar pemerintah memberikan bantuan kepada pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tersebut yang terdampak kenaikan harga BBM.

Mukroni mengatakan, bantuan tersebut sangat penting bagi para pelaku UMKM termasuk warteg, agar dapat mempertahankan usahanya di tengah kenaikan harga bahan pokok dan BBM.

"Terutama untuk meneruskan sewa, yang tidak kalah penting untuk perpanjangan usaha. Sehingga faktor permodalan sangat dibutuhkan oleh para warteg," katanya.

Mukroni menambahkan, dampak kenaikan harga BBM tidak hanya membuat harga kebutuhan pokok naik, namun juga biaya sewa tempat pemilik warteg.

Baca Juga: Rakyat Demo Tolak Kenaikan BBM dari Senin hingga Jumat di Patung Kuda, Massa Tabur Bunga sampai Bakar Ban

Mukroni mengatakan, saat ini para pemilik warteg sedang berupaya bangkit setelah terdampak pandemi Covid-19 dua tahun terakhir.

Saat ini sudah ada beberapa warteg yang menaikkan harga menu makanan imbas kenaikan harga BBM.

"Belum ada komunikasi terkait bantuan UMKM dari pemerintah. Sekarang ada (warteg) yang sudah menaikkan (harga makan), ada yang belum, beragam," tutur Mukroni.

Load More