Rully Fauzi
Kamis, 28 Agustus 2025 | 19:05 WIB
Ilustrasi galon air. (freepik/brgfx)

"Belum ada juga kasus di Indonesia dan di luar negeri juga terkena penyakit dari kandungan BPA ini," kata Kepala Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Trilogi ini.

BPOM hingga kemenperin juga telah menegaskan bahwa pemanfaatan galon guna ulang aman untuk dipakai sebagai kemasan pangan. Fakta-fakta tersebut membuktikan bahwa isu terkait bahaya BPA pada galon PC lebih nyaring dari bukti di lapangan.

Kejanggalan ketiga berkaitan dengan narasi keberlanjutan dan lingkungan yang tidak pernah menjadi bahasan. Padahal, galon guna ulang terbukti jauh lebih ramah lingkungan karena bisa dipakai ratusan kali sebelum akhirnya dipensiunkan.

Jika isu BPA dipakai untuk mendorong peralihan preferensi konsumen menggunakan galon sekali pakai maka sudah pasti memunculkan sebuah paradoks. Yakni sampah plastik meningkat, beban lingkungan bertambah, dan masyarakat menanggung dampak jangka panjang.

Penelitian Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat (LPEM) FEB UI, Bisuk Abraham Sisungkunon menyatakan salah satu alasan konsumen memilih galon guna ulang adalah membantu meminimalisir dampak lingkungan.

Riset menyatakan bahwa tanpa penggunaan galon guna ulang maka penggunaan kemasan sekali pakai akan meningkat yang pada akhirnya meningkatkan timbulan sampah hingga 770.000 ton per tahun.

"Akibatnya, emisi sampah plastik akan bertambah hingga 1.655.500 ton per tahun. Galon guna ulang bisa mengurangi sampah kemasan sekali pakai," tukasnya.

Load More