Tasmalinda
Minggu, 15 Maret 2026 | 22:34 WIB
ilustrasi paylatter yang jarang disadari banyak orang.
Baca 10 detik
  • Promo paylater seperti "Bayar Nanti" dan cicilan ringan memicu belanja impulsif, mengaburkan kesadaran pengeluaran nyata.
  • Diskon khusus platform mendorong pembelian tidak esensial, membuat total tagihan menumpuk saat jatuh tempo tiba.
  • Akumulasi cicilan ini menyebabkan Tunjangan Hari Raya (THR) sering terpakai untuk melunasi utang konsumtif masa lalu.

Alih-alih menjadi dana tambahan untuk kebutuhan Lebaran atau tabungan, THR justru habis untuk membayar utang konsumtif yang dibuat beberapa bulan sebelumnya.

Akibatnya, tujuan awal menerima THR sebagai penopang keuangan menjelang hari raya tidak tercapai.

5. Gagal Nabung karena “Utang Masa Lalu”
Masalah terbesar dari paylater bukan sekadar bunga atau biaya layanan.

Yang lebih berbahaya adalah beban finansial dari masa lalu yang terus mengikuti penghasilan saat ini.

Ketika sebagian penghasilan harus dipakai membayar cicilan paylater, ruang untuk menabung otomatis menjadi lebih kecil.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini bisa membuat seseorang terjebak dalam siklus konsumsi tanpa tabungan.

Cara Aman Menggunakan THR Agar Tidak Habis Duluan

Agar THR tidak langsung menguap, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:

1. Sisihkan tabungan lebih dulu
Begitu THR diterima, langsung pisahkan minimal 20–30 persen untuk tabungan.

Baca Juga: Buka Puasa Jakarta dan Sekitarnya Hari Ini 15 Maret 2026 Jam Berapa? Cek Waktu Magrib

2. Hindari belanja menggunakan paylater
Jika tidak benar-benar diperlukan, lebih baik menunda pembelian.

3. Gunakan prinsip kebutuhan, bukan keinginan
Tanyakan pada diri sendiri: apakah barang ini benar-benar dibutuhkan setelah Lebaran?

4. Batasi cicilan
Total cicilan idealnya tidak lebih dari 30 persen penghasilan bulanan.

Pada akhirnya, paylater bukan sepenuhnya buruk jika digunakan secara bijak. Namun tanpa pengendalian, fitur ini bisa menjadi jebakan konsumtif yang membuat THR hanya lewat sebentar di rekening.

Karena itu, sebelum tergoda promo “bayar nanti”, mungkin ada baiknya bertanya pada diri sendiri satu hal sederhana:

Apakah ini kebutuhan, atau hanya godaan diskon sesaat?

Load More