Menilik Peninggalan Pangkalan Militer Jepang di Pulau Sangiang

Pulau Sangiang dijadikan sebagai pertahanan laut terdepan oleh armada laut militer Jepang.

Rizki Nurmansyah
Sabtu, 03 Oktober 2020 | 08:25 WIB
Menilik Peninggalan Pangkalan Militer Jepang di Pulau Sangiang
Ilustrasi - Benteng peninggalan Jepang. [Antara]
Peta bungker peninggalan militer Jepang di Pulau Sangiang, Banten. [Dok. BPCB Banten]
Peta bungker peninggalan militer Jepang di Pulau Sangiang, Banten. [Dok. BPCB Banten]

Sesuai fungsinya sebagai perlindungan dan pertahanan, kebanyakan bungker-bungker tersebut terletak mendekati pantai mengarah ke Selat Sunda. Tercatat ada delapan bungker di Pulau Sangiang.

Ditilik dari fungsinya, empat bungker sebagai pertahanan, tiga bungker lebih mirip sebagai tempat perlindungan tentara, dan satu bungker merupakan tempat pengintaian.

Tinggalan lain adalah bangunan yang diduga dipakai sebagai barak tentara. Saat ini keseluruhan bangunan-bangunan tersebut dalam kondisi belum terawat dan tidak dimanfaatkan.

Disebut barak tentara karena lokasinya berada di dekat bungker dan denah serta komponen bangunan mengarah ke fungsi tersebut.

Baca Juga:DPR Pastikan Tak Ada Pangkalan Militer Asing di RI

Jika dilihat dari arsitektur bangunannya lebih mengarah kepada bangunan Belanda. Hal ini diperkuat dengan adanya tulisan Steenbakkerij Tangeran dan adanya genting press.

Keseluruhan bangunan berjumlah sembilan buah dengan tujuh buah bangunan terkonsentrasi di sisi selatan pulau dan dua buah bangunan di sisi utara pulau.

Barak Militer Jepang di Pulau Sangiang, Banten. [Dok. BPCB Banten]
Barak Militer Jepang di Pulau Sangiang, Banten. [Dok. BPCB Banten]

Tinggalan arkeologis berikutnya adalah bekas helipad. Kondisinya saat ini tertutup oleh rumput dan pepohonan.

Helipad yang ada berjumlah dua titik, yakni di daratan Pulau Sangiang sisi barat dan utara.

Di Pulau Sangiang ini juga ditemukan sebuah prasasti dengan huruf kanji pada sebuah batu.

Baca Juga:Bantah AS, Menlu Retno: Tak Ada Pangkalan Militer China di Indonesia

Menurut seorang arkeolog Jepang, prasasti itu berbunyi "Genjumin romusha no hi".

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak