"Aksi di Gereja Katedral Makassar begitu juga di Mabes Polri kemarin, adalah aksi lanjutan, aksi balas dendam terhadap teman-teman mereka yang ditangkap," ujar Nasir Abbas.
"Jadi jiwa mereka terpanggil dan terpancing untuk membuat yang sama. Walaupun tidak pernah ketemu dengan kelompok yang itu," sambungnya.
![Para terduga teroris Jatim turun dari pesawat dengan kondisi kaki dirantai dan mata ditutup saat tiba di Landasan Apron Terminal Kargo Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Kamis (18/3/2021). [Suara.com/Muhammad Jehan Nurhakim]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2021/03/18/68538-terduga-teroris-jatim.jpg)
Pemerintah Adalah Musuh
Selain balas dendam, Nasir Abbas menilai jika saat ini para teroris sudah menganggap pemerintah Indonesia sebagai musuh mereka.
Baca Juga:Eks Petinggi Jamaah Islamiyah Ungkap Motif Teroris Serang Polisi
"Mereka yakin, bahwa sekarang sedang perang, wajib fardhu ain, memerangi pemerintah Indonesia. Kalau sudah fardhu ain berperang di Indonesia, bahkan wanita dan lelaki angkat senjata," katanya.
"Jadi suatu keyakinan selain keyakinan faktor balas dendam," Nasir menambahkan.
Bom Makassar dan Penyerangan Mabes Polri
Diberitakan sebelumnya, ledakan bom bunuh diri terjadi di depan Gereja Katedral Makassar pada pukul 10.28 WITA, Minggu (28/3/2021).
Pelaku merupakan pasangan suami istri yang merupakan kelompok dari Jamaah Ansharut Daulah (JAD).
Baca Juga:Nasir Abbas: Sasaran Kelompok JAD Itu Dua, Gereja dan Polisi
Mereka berboncengan menggunakan sepeda motor hendak masuk ke dalam gereja. Namun dihadang seorang sekuriti dan akhirnya meledakkan diri di depan gerbang Gereja Katedral Makassar.