"Kita kan awalnya jemaah aktif di Masjid Baitussalam ini, akhirnya setiap ada kegiatan di masjid saya ikut berpartisipasi, ikut membantu."
"Apalagi ini karena Covid-19, main hidroponik, otomatis saya langsung terjun main hidroponik ini," ujar pria berusia 47 ini menuturkan awal mula dirinya beralih profesi menjadi petani hidroponik.
Awalnya, para petani yang aktif di MB Farm tak memiliki pengetahuan sama sekali tentang hidroponik.
Ilmu tentang bercocok tanam hidroponik, kata Sofyan, didapatnya dari internet sambil langsung mempraktikannya di atap masjid.
Baca Juga:Berkebun di Atap Masjid: Ikhlas untuk Kemakmuran Masjid dan Jamaah

"Ya pasti ada kegagalan lah, pas penyemaian itu kita kurang maksimal, pakai nutrisi atau pakai air," katanya, menceritakan kegagalan yang ia alami pada awal MB Farm berdiri.
Kendati begitu, Sofyan mengatakan bahwa bercocok tanam dengan hidroponik sangat mudah. Akan tetapi, lokasi kebun hidroponik di atap masjid, menurutnya, menciptakan tantangan tersendiri.
"Sebenarnya sih gampang kalau main hidroponik. Mungkin tiap hari kita cek air, nutrisi. Mungkin kalau di atas sini kan terkendala cuaca, ada angin kenceng, hujan," kata dia, seraya menambahkan bahwa sayuran organik dari kebun hidroponik biasanya bebas pestisida, higienis, dan aman bagi kesehatan.
Lebih lanjut Sofyan menambahkan, bibit sayuran disemai terlebih dulu selama empat hari.
Setelah itu, tanaman dipindahkan ke sistem dan dipanen setelah 20 hari.
Baca Juga:4 Sayuran Hidroponik yang Bisa Anda Tanam di Rumah
Muhammad Faizin, petani hidroponik yang juga menangani segala kegiatan peribadatan dan syiar keagamaan di Masjid Baitussalam, mengatakan bahwa tujuan utama dari MB Farm adalah untuk sosial.

Namun seiring jumlah sistem hidroponik yang kian bertambah, bercocok tanam di atap masjid dipandang memiliki potensi ekonomi.
"Artinya, setelah kita perbanyak sistemnya hasilnya kalau untuk kalangan sendiri sudah terlalu banyak. Jadi awalnya kita bagi ke masyarakat, akhirnya ada pikiran ide bagaimana untuk dipasarkan," kata Faizin.
Para petani kemudian memasarkan sayuran yang mereka panen dengan berbagai cara, mulai dari mulut ke mulut, media sosial, hingga lewat pengumuman masjid.
"Kami siarkan di acara salat Jumat, kita tidak segan-segan tawarkan pada jemaah, dan ini kan masuk unit usaha masjid, bahwa masjid punya dagangan nih, sayuran, caisim, kangkung dan lain sebagainya," jelas Faizin.
Setiap dua minggu, MB Farm bisa memproduksi sekitar 10-20 paket sayuran organik. Paket-paket ini masing-masing dijual seharga Rp10.000 dengan berat sekitar 400 gram.