facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Menilik Produksi Al Quran Braile di Tangsel, Jadi Lentera Menerangi Tunanetra di 3 Benua

Rizki Nurmansyah Minggu, 17 April 2022 | 17:40 WIB

Menilik Produksi Al Quran Braile di Tangsel, Jadi Lentera Menerangi Tunanetra di 3 Benua
Mushaf Al Quran Braile produksi Yayasan Raudlatul Makfufin, Kota Tangerang Selatan (Tangsel). [Suara.com/Wivy Hikmatullah]

Yayasan Raudlatul Makfufin sudah memiliki empat model Al Quran braile yang diproduksi.

SuaraJakarta.id - Sudah lebih dari 30 tahun Yayasan Raudlatul Makfufin menjadi lentera bagi para tunanetra. Tak hanya di Indonesia, Al Quran braile hasil cetakannya menjadi cahaya penerang bagi tunanetra di Australia hingga Afrika.

Yayasan Raudlatul Makfufin juga disebut sebagai Taman Tunanetra. Lokasinya berada di Jalan Haji Jamat, Buaran, Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Ada proses panjang pada pendirian yayasan tersebut.

Yayasan tersebut menjadi satu-satunya yang memproduksi Al Quran Braile bagi tunanetra di Banten. Hasil produksinya dibagikan secara gratis melalui program wakaf.

Baca Juga: Kucing-kucingan Buka Saat Ramadhan, 4 Tempat Hiburan Malam di Tangsel Digerebek

Yayasan tunanetra itu dibangun oleh cendekiawan dan pendidik Sekolah Luar Biasa (SLB) Raden Halim Shaleh pada 1983 yang fokus pada pengajaran Islam bagi tunanetra.

Saat itu, akses pada Al Quran braile masih terbatas. Bahkan Departemen Agama hanya memiliki beberapa buah saja sehingga terbatas untuk digunakan umum.

Proses pendirian yayasan itu tidak mudah. Semula yayasan berdiri di kawasan Ciputat, lalu terpaksa pindah lantaran lahan milik negara itu digunakan untuk pembangunan Kampus UIN Syarif Hidayatullah saat ini.

Dengan jalan berliku, akhirnya yayasan tunanetra itu kembali dibangun secara permanen di lokasi saat ini Jalan Haji Jamat Serpong, Tangsel, pada 2010.

Hingga saat ini, aktivitas pendidikan Islam bagi tunanetra di yayasan tersebut terus berjalan. Mushaf Al Quran braile produksinya pun kini sudah merambah hingga mancanegara.

Baca Juga: Petasan Sasar Bensin di Warung Kelontong, Warteg dan Rumah Hangus Terbakar di Tangsel

Ketua Yayasan Raudlatul Makfufin, Diah Rahmawati mengatakan, yayasan dibentuk semula dari pembelajaran rumah ke rumah yang dilakukan oleh pendiri yayasan. Karena situasi dirasa sudah membutuhkan suatu wadah, didirikanlah yayasan tunanetra.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait