Indonesia Financial System Stability Summit 2023, Event Kolaborasi dan Sinergi Stakeholder Jasa Keuangan

Mahendra menjabarkan beberapa indikator yang digunakan sebagai prakiraan di tahun 2023.

Fabiola Febrinastri
Jum'at, 24 Februari 2023 | 09:10 WIB
Indonesia Financial System Stability Summit 2023, Event Kolaborasi dan Sinergi Stakeholder Jasa Keuangan
Indonesia Financial System Stability Summit 2023, Kamis (23/2/2023), di The Westin Jakarta. (Dok: DPD)

“Pertumbuhan ini memberikan juga suatu kepercayaan diri bagi kita memasuki tahun 2023 ini akan dapat menjaga momentum yang baik. Selain itu, awal tahun ini memberikan beberapa konfirmasi pertumbuhan tadi, seperti neraca perdaganan yang surplus, PMI pada zona ekspansi, dan kepercayaan konsumen yang tetap positif,” jelasnya.

Mahendra kemudian menjelaskan OJK bersama dengan Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan Lembaga Penjamin Simpanan bekerja sama, bersinergi, dan berkoordimasi untuk menjaga ketahanan dan stabilitas sektor sistem keuangan.

“Kami di OJK bekerja sama, bersinergi, berkoordinasi kuat dengan Pemerintah terutama Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan LPS untuk senantiasa mencermati, memantau, dan melakukan langkah-langkah untuk menjaga ketahanan dan juga stabilitas sektor dan sistem keuangan yang ada.

“Dapat kami sampaikan bahwa prakiraan dan outlook dari perekonomian di 2023 ini yang tetap mencerminkan pertumbuhan yang sehat sebagai kondisi yang berlanjut untuk terus memantapkan pemulihan pascapandemi,” tambahnya.

Baca Juga:Dorong Peningkatan NTP, Subsidi Pupuk dan Bibit Harus Terus Ditingkatkan

Mahendra menjabarkan beberapa indikator yang digunakan sebagai prakiraan di tahun 2023, seperti tumbuhnya kredit perbankan, cepat terakumulasinya nilai emisi di pasar modal, bertumbuhnya piutang perusahaan pembiayaan, aset asuransi jiwa dan umum, serta aset dana pensiun.

“Kredit perbankan diproyeksikan tumbuh sebesar 10%-12% didukung perrtumbuhan DPK sebesar 7%-9%. Di pasar modal, pada satu setengah bulan awal tahun ini, nampaknya target Rp200 triliun akan dapat dicapai. Piutang perusahaan pembiayaan diproyeksikan tumbuh 13%-15% apalagi ditambah dengan meningkatnya mobilitas masyarakat jika pandemi statusnya turun menjadi endemi,” terangnya.

“Aset asuransi jiwa dan asuransi umum diperkirakan tumbuh 5%-7%. Tentu hal ini dapat dilakukan dengan suatu program reformasi yang kuat yang dilakukan untuk industri asuransi. Aset dana pensiun diperkirakan juga tumbuh dengan tingkat yang sama antara sekitar 5-7%,” tambah Mahendra Siregar.

Acara Indonesia Financial System Stability Summit 2023: Stabilizing Financial System from the Global Economic Shockwaves juga dihadiri oleh beberapa stakehokders ternama, seperti PT Asuransi Rama Satria Wibawa (Asuransi Rama), Indonesia Financial Group (IFG), PT Integrity Indonesia, PT Indolife Pensiontama, PT CIMB Niaga Auto Finance dan beberapa perusahaan pendukung lainnya.

Baca Juga:Anak Agung Gde Agung Ungkap Alasan Mundur Dari Balon DPD RI

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini