- Buku *Broken Strings* adalah memoar pribadi Aurelie Moeremans tentang pengalaman grooming dan manipulasi emosional.
- Penulis menyamarkan identitas tokoh lain dan merilis buku tersebut secara resmi tanpa biaya untuk akses publik.
- Memoar ini memicu diskusi publik mengenai trauma, relasi tidak sehat, serta dampak luas isu *grooming* di masyarakat.
SuaraJakarta.id - Buku berjudul Broken Strings mendadak menjadi perbincangan luas di media sosial dan ruang publik terutama oleh generasi Z. Memoar ini ditulis oleh Aurelie Moeremans dan ramai dibahas bukan karena fiksi atau sensasi semata, melainkan karena buku ini berisi pengakuan personal yang dinilai relevan secara sosial.
Berikut 6 fakta penting yang merangkum mengapa Broken Strings viral serta disajikan secara faktual dan dirasa 'mengena' bagi generasi saat ini:
1. Broken Strings adalah Memoar Pribadi, Bukan Novel Fiksi
Broken Strings ditulis sebagai memoar, artinya berisi pengalaman hidup penulis dari sudut pandangnya sendiri. Aurelie menegaskan jika buku ini adalah bentuk refleksi sekaligus kesaksian personal, bukan karya fiksi atau roman rekaan.
Baca Juga:Viral Pria Asing Ini Menangis Saat Tinggalkan Indonesia, Tak Kuat Berpisah dengan Nasi Padang
Karena sifatnya memoar maka berisikan narasi yang disampaikan secara subjektif sesuai ingatan dan pengalaman penulis.
2. Tema Utama: Grooming, Manipulasi Emosional, dan Trauma
Salah satu topik utama yang dibahas adalah pengalaman relasi yang tidak sehat yang melibatkan grooming serta manipulasi emosional saat Aurelie masih berada dalam fase rentan. Buku ini tidak mengglorifikasi kejadian tersebut, melainkan menempatkannya sebagai trauma psikologis yang berdampak jangka panjang.
3. Nama dan Identitas Disamarkan
Dalam buku ini, nama tokoh lain tidak ditulis secara gamblang. Aurelie menggunakan pendekatan penyamaran identitas untuk melindungi privasi dan menghindari tudingan langsung. Hal ini penting secara etika dan hukum, serta membedakan memoar ini dari tuduhan terbuka atau laporan pidana.
Baca Juga:Viral Air Sinkhole di Limapuluh Kota Dipercaya Jadi Obat, ESDM Bongkar Fakta Sebenarnya
4. Dirilis Gratis dan Resmi oleh Penulis
Salah satu alasan utama buku ini cepat viral ialah keputusan Aurelie untuk merilis Broken Strings secara gratis melalui tautan resmi. Keputusan ini diambil agar pesan buku dapat diakses seluas mungkin, terutama oleh pembaca muda dan penyintas yang mungkin memiliki keterbatasan akses.
5. Reaksi Netizen Beragam
Respons publik terhadap Broken Strings beragam namun terasa sangat aktif. Banyak pembaca menyampaikan empati dan dukungan, terutama dari kalangan penyintas yang merasa pengalaman mereka “terwakili”. Di sisi lain, muncul pula diskusi kritis terkait batas memoar, tafsir publik, dan risiko pembacaan memoar, sebuah dinamika yang wajar dalam karya personal yang sensitif.
6. Dampak Sosial Bisa Membuka Percakapan tentang Grooming
Terlepas dari pro dan kontra, Broken Strings diakui telah memicu percakapan publik tentang grooming, relasi timpang, dan pentingnya literasi emosional. Buku ini sering dijadikan pintu masuk diskusi, bukan sebagai rujukan hukum, tentang bagaimana manipulasi bisa terjadi tanpa kekerasan fisik, dan mengapa korban sering baru menyadarinya bertahun-tahun kemudian.