Untuk ;atar pendidikan dominannya adalah lulusan SMU sederajat sebanyak 47,43 persen, sarjana 17,31 persen, SMP 13,16 persen, SD 10,29 persen, diploma 7,34 persen dan pasca sarjana (4,47 persen).
Ini mewakili kondisi demografis secara keseluruhan. Dan hampir 17 persen responden pernah dan memiliki komorbid.
Untuk Persepsi Risiko berdasarkan hasil survei, sebanyak 42 persen warga Kota Bogor mengetahui informasi tentang Covid-19 dari televisi, media cetak dan radio.
Selanjutnya dari sosial media 37 persen dan ketiga adalah situs atau website Pemkot Bogor sebanyak 14,06 persen.
Untuk sumber informasi yang memiliki tingkat kepercayaan paling tinggi, warga Kota Bogor lebih mempercayai dokter atau pakar kesehatan (4, 01 persen) dan tokoh agama (3,71 persen), pejabat pemerintah sebesar 3,67 persen di urutan ketiga.
Perilaku kesehatan berupa penerapan 3 M (Mencuci tangan, Memakai Masker dan Menjaga Jarak), indeks menunjukkan 89,66 persen sering dan selalu mencuci tangan.
Untuk penggunaan masker menunjukkan 92,05 persen sering dan selalu menggunakan masker.
Sementara untuk jaga jarak skornya hanya 77 persen, bahkan ada 19,38 persen responden menyatakan tidak menjaga jarak ketika keluar rumah.
"Untuk survei protokol kesehatan lebih bersifat self assessment," jelas Sulfikar.
Baca Juga: Anies Tak Terapkan SIKM di PSBB Ketat, Pemkab Bogor Lempar Kritik
Selanjutnya sebanyak 64 persen responden menyatakan sangat kecil dan kecil kemungkinan terkena Covid-19. Ini bisa diartikan merasa aman dan menganggap remeh atau enteng Covid-19.
Sementara untuk seberapa besar kemungkinan orang yang paling dekat terkena Covid-19, responden menyatakan 38,25 persen sangat kecil dan 26,25 menyatakan kecil.
Sedangkan untuk seberapa besar kemungkinan orang di lingkungan tempat tinggal yang terkena Covid ada 31,91 persen menyatakan sangat kecil dan 26,39 persen menyatakan kecil kemungkinannya.
Jika dikelompokkan berdasarkan usia, rentang usia yang menganggap remeh Covid ada di 36-45 tahun sebanyak 12,95 persen, diikuti 26-35 (10,91 persen), 46-55 (8,97 persen), 55 tahun (4,53 persen) dan 18-25 (4,61 persen).
"Bisa jadi yang merasa aman ini karena persepsi yang bergantung pada masalah pengalaman, dimana belum pernah melihat teman, keluarga atau orang di lingkungannya yang terpapar Covid-19. Ini yang menjadi masalah," ujar Sulfikar.
Untuk lokasi penularan, indeks menunjukkan 30,16 persen menunjukkan kemungkinan besar akan tertular Covid-19 jika pergi ke pasar dan pusat perbelanjaan.
Berita Terkait
-
WFH demi Hemat BBM: Solusi Visioner atau Sekadar Geser Beban ke Rakyat?
-
DPRD Kota Bogor Bahas Program dan Target PDAM Tirta Pakuan untuk Tahun 2026
-
Pemerintah Siapkan Skenario dari era Covid-19 Hadapi Krisis Energi Akibat Konflik Timur Tengah
-
Bima Arya Desak Bupati-Wakil Bupati Jember Selesaikan Konflik Elegan
-
Jerinx SID Kembali Singgung Konspirasi COVID-19, Ungkit Aksi Demo Tolak Rapid Tes Tahun 2020
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- 5 Motor Irit tapi Bukan Honda BeAT, Mesin Awet untuk Jangka Panjang, Cocok untuk Pejuang Nafkah
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
Pilihan
-
Puncak Arus Balik dari Jogja Pertama Terlewati, Gelombang Kedua Diprediksi Akhir Pekan
-
Bocor! China Bikin Peta Laut hingga Indonesia untuk Hadapi AS di Perang Dunia III
-
Iran Angkat Mohammad Bagher Zolghadr sebagai Pengganti Ali Larijani
-
Heboh Wanita Muda Hendak Akhiri Hidup di Depan Istana Merdeka, Untung Ketahuan Paspampres
-
Kasus Dean James Memanas, Pundit Belanda: Efeknya Bisa Guncang Eredivisie
Terkini
-
Sentuhan Klasik di Destinasi Modern: Cerita dari Flea Market Indonesia Design District
-
'Maaf, Nggak Open House', Benarkah Gen Z Kini Pilih Privasi Saat Lebaran?
-
THR Tak Lagi Pakai Amplop, Transfer Digital Kini Geser Tradisi Lebaran?
-
THR Gen Z Tak Lagi Habis untuk Baju Baru, Kini Ramai-ramai Dipakai untuk Upgrade Skill
-
Tak Semua Bisa Mudik, Anak Rantau Ini Rayakan Lebaran Lewat Video Call: Cuma Bisa Lihat dari Layar