Scroll untuk membaca artikel
Rizki Nurmansyah
Senin, 01 Maret 2021 | 09:05 WIB
Dodol Cilenggang, makanan khas betawi buatan Asep Wijaya, warga Jalan Cilenggang, Serpong, Tangerang Selatan. [SuaraJakarta.id/Muhammad Jehan Nurhakim]

Asep menjelaskan proses pembuatan Dodol Cilenggang miliknya berawal dari menyiapkan kuali besar yang bisa menampung 20 liter air.

Selanjutnya dimasukan santen Kelapa dan ditunggu hingga matang. Kemudian dimasukkan adonan tepung sambil diaduk secara manual.

Alat adukan itu menggunakan centong besar yang dinamakan pengharu. Tinggi alat itu mencapai 150 meter atau setinggi badan si pembuatnya.

Lalu, dimasukan gula merah, gula pasir dan garam sambik diaduk terus-menerus oleh pekerja.

Baca Juga: Resep Kembang Goyang Khas Betawi, Camilan Manis dan Renyah Rasa Surgawi

Ketika ditanya berapa takaran yang harus dimasukan. Ia enggan membocorkannya, karena itu privasi.

Hanya saja, untuk membuat Dodol Cilenggang, mereka yang mengaduk di kuali tersebut tidak boleh berhenti. Sebab akan mengakibatkan gosong.

Mereka yang membuat terus mengaduk hingga memakan waktu 7 jam lamanya. Hal ini disiasatinnya dengan bergantian dengan pekerja lainnya.

"Jadi dia (pekerja) ganti-gantian ngaduknnya. Gimana enaknya dia aja," ucap Asep.

Asep mengatakan sekali pembuatan bisa menghasilkan 60 kg. Nantinnya akan dimasukkan ke dalam bungkusan yang biasa disebut mika.

Baca Juga: Melestarikan Seni Budaya Betawi saat Pandemi

Setiap mika akan berisi rata-rata 5 kilogram. Harga yang dipatoknya yaitu Rp 250 ribu per 5 kg.

Load More