"Saya masih kecil. Kalau enggak salah masih SMP ," kata Asep.
Asep meyakini dari dulu hingga sekarang Dodol Cilenggang tetap digemari bagi masyarakat Indonesia. Khususnya masyarakat Betawi.
"Jadi dulu tuh, Dodol Cilenggang biasa dipakai saat hajatan. Jadi dodol tuh harus ada kalau dalam adat Betawi, enggak tahu itu adat atau apa. Tapi karena dari dulu selalu ada, jadi sampai sekarang ada terus," ungkap Asep.
Pembuatan Dodol Cilenggang
Asep menerangkan bahan-bahan yang digunakan saat pembuatan dodol Cilenggang sebenarnya sama saja dengan dodol pada umumnya seperti santen kelapa, gula merah, gula pasir, tepung dan garam.
Asep menjelaskan proses pembuatan Dodol Cilenggang miliknya berawal dari menyiapkan kuali besar yang bisa menampung 20 liter air.
Selanjutnya dimasukan santen Kelapa dan ditunggu hingga matang. Kemudian dimasukkan adonan tepung sambil diaduk secara manual.
Alat adukan itu menggunakan centong besar yang dinamakan pengharu. Tinggi alat itu mencapai 150 meter atau setinggi badan si pembuatnya.
Lalu, dimasukan gula merah, gula pasir dan garam sambik diaduk terus-menerus oleh pekerja.
Baca Juga: Resep Kembang Goyang Khas Betawi, Camilan Manis dan Renyah Rasa Surgawi
Ketika ditanya berapa takaran yang harus dimasukan. Ia enggan membocorkannya, karena itu privasi.
Hanya saja, untuk membuat Dodol Cilenggang, mereka yang mengaduk di kuali tersebut tidak boleh berhenti. Sebab akan mengakibatkan gosong.
Mereka yang membuat terus mengaduk hingga memakan waktu 7 jam lamanya. Hal ini disiasatinnya dengan bergantian dengan pekerja lainnya.
"Jadi dia (pekerja) ganti-gantian ngaduknnya. Gimana enaknya dia aja," ucap Asep.
Asep mengatakan sekali pembuatan bisa menghasilkan 60 kg. Nantinnya akan dimasukkan ke dalam bungkusan yang biasa disebut mika.
Setiap mika akan berisi rata-rata 5 kilogram. Harga yang dipatoknya yaitu Rp 250 ribu per 5 kg.
Tag
Berita Terkait
-
Serahkan Bukti ke Polisi, Pengacara Beberkan Kronologi Temuan 340 Ribu Dolar Singapura
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
Kecelakaan Maut Tol Cipali: Anggota DPRD Tangsel Ahmad Andi Wibowo Meninggal Usai Tabrak Truk
-
Tangsel Mulai Kekeringan, 222 KK di Keranggan dan Serpong Krisis Air Bersih
-
Beraksi di RS Buah Hati Pamulang, Tiga Pembobol ATM Ambruk Ditembak Polisi
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Bencana Alam Tak Bisa Dihitung dengan Kalkulator
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
Terkini
-
5 Tahun Holding UMi, BRI Perkuat Pembiayaan dan Pemberdayaan Usaha Ultra Mikro
-
Dari Cirebon ke Taipei, Tati Purwanti Bawa Kuliner Lokal dan Tumbuh Bersama BRI
-
Wajah Baru Museum Kediri, Kini Jadi Pusat Layanan Budaya Terpadu
-
Raih Penghargaan IDX Channel 2026, BRImo Taiwan Jadi Solusi Keuangan Diaspora dan PMI
-
Kasus Dolar Singapura Palsu, Kuasa Hukum Ungkap Janji Imbalan 1.500 SGD Per Lembar