Scroll untuk membaca artikel
Pebriansyah Ariefana
Kamis, 03 Juni 2021 | 07:10 WIB
Asal usul nama Jembatan Lima di Jakarta Barat. Jembatan Lima salah satu pusat perdagangan di barat Jakarta. (encyclopedia jakarta)

Gang Daging dan Gang Kiara pun dulunya punya kisah sendiri. Disebut Gang Daging karena di gang itu sebagian besar penghuninya tukang daging, sedang Gang Kiara karena di sana ada pohon kiara.

Kampung Jembatan Lima pada masa pemerintahan Belanda secara administratif termasuk Kawedanan Penjaringan, Kelurahan Angke Duri dan yang menjadi kepala kampungnya pada waktu itu adalah Bek Akhir, Bek Latip, dan Bek Marzuki.

Pada masa pendudukan Jepang, Kampung Jembatan Lima masuk wilayah Penjaringan Son (kecamatan) dan Kelurahan Angke Duri. Kepala kampungnya Bek Ramadan.

Sedang pada masa kemerdekaan wilayah Jembatan Lima dibagi atas 3 kelurahan, yaitu Kelurahan Tambora, Kelurahan Jembatan Lima, dan Kelurahan Pekojan. Adapun yang menjabat sebagai kepala kampung ialah Bek Salamun.

Baca Juga: Heboh akan Ada Rapat Akbar Demit Malang Raya di Jembatan, Begini Ceritanya

Dulu penduduk Jembatan Lima masih jarang dan tinggal berkelompok tidak jauh dari kebun mereka. Setelah tahun 1920-an datang orang-orang Banten dengan menggunakan kereta api karena letaknya tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya.

Orang-orang dari Banten ini tinggal di tanah wakaf, di Gang Kiara. Mereka mencari nafkah dengan menjadi kuli panggul di Stasiun Angke Duri dan Beos atau di pasar. Setelah di Jembatan Lima dibangun jalan raya, mulai berdatangan orang-orang dari Bogor, Cirebon, dan Tasikmalaya.

Mereka mencari nafkah dengan berdagang makanan dan kerajinan. Misalnya orang Bogor berdagang nasi dan kopi, orang Cirebon berdagang gado-gado, orang Tasikmalaya berdagang barang kerajinan (payung, kelom geulis, tas), dan orang Tegal berdagang nasi di pasar.

Sedangkan orang Betawi bekerja di toko atau perusahaan swasta, pelayan toko, juru tulis, jaga malam atau mandor. Para pekerja kantor di tahun 1930-an mendapat gaji sekitar F. 10 sampai F. 30.

Penduduk kampung Jembatan Lima mayoritas terdiri dari para pendatang. Orang-orang dari Sumatra (Lampung, Palembang, Padang) datang untuk menuntut ilmu di Pesantren KK Moch. Mansur, kecuali orang Palembang yang datang untuk berjualan kopiah di pasar Jembatan Lima bersama dengan orang Cina.

Baca Juga: Plengsengan Jembatan Kedung Kandang Malang Ambrol, Bangsa Demit Gelar Rapat

Orang Cina ini mula-mula hanya tiga keluarga dan menetap di Kampung Sawah Lio, membuka warung untuk kebutuhan sehari-hari. Ketika makin banyak pendatang, penduduk asli pindah ke Tanah Abang dan Kebayoran Lama setelah menjual rumahnya ke orang Cina.

Load More