Gang Daging dan Gang Kiara pun dulunya punya kisah sendiri. Disebut Gang Daging karena di gang itu sebagian besar penghuninya tukang daging, sedang Gang Kiara karena di sana ada pohon kiara.
Kampung Jembatan Lima pada masa pemerintahan Belanda secara administratif termasuk Kawedanan Penjaringan, Kelurahan Angke Duri dan yang menjadi kepala kampungnya pada waktu itu adalah Bek Akhir, Bek Latip, dan Bek Marzuki.
Pada masa pendudukan Jepang, Kampung Jembatan Lima masuk wilayah Penjaringan Son (kecamatan) dan Kelurahan Angke Duri. Kepala kampungnya Bek Ramadan.
Sedang pada masa kemerdekaan wilayah Jembatan Lima dibagi atas 3 kelurahan, yaitu Kelurahan Tambora, Kelurahan Jembatan Lima, dan Kelurahan Pekojan. Adapun yang menjabat sebagai kepala kampung ialah Bek Salamun.
Baca Juga: Heboh akan Ada Rapat Akbar Demit Malang Raya di Jembatan, Begini Ceritanya
Dulu penduduk Jembatan Lima masih jarang dan tinggal berkelompok tidak jauh dari kebun mereka. Setelah tahun 1920-an datang orang-orang Banten dengan menggunakan kereta api karena letaknya tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya.
Orang-orang dari Banten ini tinggal di tanah wakaf, di Gang Kiara. Mereka mencari nafkah dengan menjadi kuli panggul di Stasiun Angke Duri dan Beos atau di pasar. Setelah di Jembatan Lima dibangun jalan raya, mulai berdatangan orang-orang dari Bogor, Cirebon, dan Tasikmalaya.
Mereka mencari nafkah dengan berdagang makanan dan kerajinan. Misalnya orang Bogor berdagang nasi dan kopi, orang Cirebon berdagang gado-gado, orang Tasikmalaya berdagang barang kerajinan (payung, kelom geulis, tas), dan orang Tegal berdagang nasi di pasar.
Sedangkan orang Betawi bekerja di toko atau perusahaan swasta, pelayan toko, juru tulis, jaga malam atau mandor. Para pekerja kantor di tahun 1930-an mendapat gaji sekitar F. 10 sampai F. 30.
Penduduk kampung Jembatan Lima mayoritas terdiri dari para pendatang. Orang-orang dari Sumatra (Lampung, Palembang, Padang) datang untuk menuntut ilmu di Pesantren KK Moch. Mansur, kecuali orang Palembang yang datang untuk berjualan kopiah di pasar Jembatan Lima bersama dengan orang Cina.
Baca Juga: Plengsengan Jembatan Kedung Kandang Malang Ambrol, Bangsa Demit Gelar Rapat
Orang Cina ini mula-mula hanya tiga keluarga dan menetap di Kampung Sawah Lio, membuka warung untuk kebutuhan sehari-hari. Ketika makin banyak pendatang, penduduk asli pindah ke Tanah Abang dan Kebayoran Lama setelah menjual rumahnya ke orang Cina.
Tag
Terpopuler
- Baru Sekali Bela Timnas Indonesia, Dean James Dibidik Jawara Liga Champions
- Terungkap, Ini Alasan Ruben Onsu Rayakan Idul Fitri dengan "Keluarga" yang Tak Dikenal
- Lisa Mariana Pamer Foto Lawas di Kolam Renang, Diduga Beri Kode Pernah Dekat dengan Hotman Paris
- JakOne Mobile Bank DKI Diserang Hacker? Ini Kata Stafsus Gubernur Jakarta
- Chat Istri Ridwan Kamil kepada Imam Masjid Raya Al Jabbar: Kami Kuat..
Pilihan
-
Nova Arianto: Ada 'Resep Rahasia' STY Saat Timnas Indonesia U-17 Hajar Korea Selatan
-
Duh! Nova Arianto Punya Ketakutan Sebelum Susun Taktik Timnas Indonesia U-17 Hadapi Yaman
-
Bukan Inter Milan, Dua Klub Italia Ini Terdepan Dapatkan Jay Idzes
-
Cerita Trio Eks Kapolresta Solo Lancarkan Arus Mudik-Balik 2025
-
Gawat! Mees Hilgers Terkapar di Lapangan, Ternyata Kena Penyakit Ini
Terkini
-
Dermaga Baru PIK: Gerbang Wisata Mewah ke Kepulauan Seribu, Ancol Terancam?
-
Pramono Mau Bikin Layanan Transjabodetabek, Pengamat: 60 Persen Warga Bakal Gunakan Angkutan Umum
-
Omzet UMKM di Jakarta Justru Menurun Jelang Lebaran, Ini Penyebabnya
-
Termasuk Pedagang Taman, Rano Karno Targetkan 500 Ribu Lapangan Kerja Baru di Jakarta
-
Rano Karno Sebut 6 Taman di Jakarta Bakal Buka 24 Jam, Ini Daftarnya