Pada tahun 1946, lanjut Nurhasan, suasana nusantara usai merdeka masih mencekam. Pasalnya, Belanda belum sepenuhnya angkat kaki dari bumi pertiwi. Di tahun yang sama, bahkan kembali terjadi gejolak peperangan.
Perjuangan mempertahankan kemerdekaan semakin berat. Lantaran tak hanya melawan penjajah, tapi para pejuang juga harus melawan pribumi yang jadi antek-antek Belanda.
"Kita bertempur bukan (hanya) sama Belanda, tapi sama bangsa sendiri yang mengikuti Belanda," ungkapnya.
Setelah pergolakan itu memuncak, hingga menyebabkan peristiwa 10 November di Surabaya, kemudian lahirlah gencatan senjata oleh Sultan Sjahrir di Linggarjati, Jawa Barat, yang kemudian dikenal dengan peristiwa Perjanjian Linggarjati.
Beberapa tahun setelah itu, Nurhasan kemudian pensiun setelah ikut berperang melawan penjajah Belanda di bawah komando Jenderal Soedirman.
Kontributor : Wivy Hikmatullah
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- 61 Kode Redeem FF Max Terbaru 20 Maret 2026: Raih THR Idul Fitri, AK47 Lava, dan Joker
- 9 HP Gaming Terjangkau Rekomendasi David GadgetIn Buat Lebaran 2026, Performa Kencang!
- Apa Jawaban Minal Aidin Wal Faizin? Simak Arti dan Cara Membalasnya
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
Pilihan
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
-
Skandal Dean James Melebar! Pakar Hukum Belanda Sebut Status WNI Jadi Masalah Utama
-
Serangan AS-Israel di Malam Takbiran Tewaskan Jubir Garda Revolusi Iran
-
Mencekam! Jirayut Terjebak Baku Tembak di Thailand
Terkini
-
'Maaf, Nggak Open House', Benarkah Gen Z Kini Pilih Privasi Saat Lebaran?
-
THR Tak Lagi Pakai Amplop, Transfer Digital Kini Geser Tradisi Lebaran?
-
THR Gen Z Tak Lagi Habis untuk Baju Baru, Kini Ramai-ramai Dipakai untuk Upgrade Skill
-
Tak Semua Bisa Mudik, Anak Rantau Ini Rayakan Lebaran Lewat Video Call: Cuma Bisa Lihat dari Layar
-
Lebaran Asyik di Jakarta: Keliling Dunia dalam Satu Kawasan, Tanpa Macet-macetan Keluar Kota