-
Jurnalis se-Nusantara mengikuti workshop di Jakarta untuk mempertajam investigasi keuangan berkelanjutan dan memantau aliran dana transisi energi di Indonesia.
-
Diskusi menyoroti sisi gelap industri nikel, risiko greenwashing instrumen hijau, serta pentingnya menelusuri pembiayaan perbankan BUMN di balik kerusakan lingkungan.
-
Workshop ini membekali jurnalis dengan teknik Follow The Money untuk kolaborasi reportase mendalam tentang dampak sektor keuangan pada transisi energi di daerah.
SuaraJakarta.id - Di tengah gemerlap janji transisi energi menuju Indonesia Emas, sebuah pertanyaan besar seringkali luput dari perhatian publik, ke mana sebenarnya uang ratusan triliun itu mengalir?
Menjawab keresahan ini, puluhan jurnalis dari berbagai penjuru nusantara berkumpul di Jakarta pada penghujung November 2025.
Bukan sekadar seminar biasa, pertemuan yang diinisiasi oleh Ekuatorial.com, The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ), dan Responsibank ini menjadi kawah candradimuka.
Bertajuk "Reportase Keuangan Berkelanjutan dan Transisi Energi di Indonesia", forum ini membekali para pewarta dengan senjata baru untuk mengawasi akuntabilitas lembaga keuangan di balik proyek-proyek energi yang seringkali diklaim hijau namun berdampak merah bagi warga lokal.
Dwi Rahayu Ningrum dari The PRAKARSA membuka mata peserta tentang sisi gelap industri nikel komponen utama baterai EV. Ia menyoroti bagaimana dekarbonisasi seringkali melupakan keadilan bagi masyarakat adat dan perempuan di sekitar tambang.
"Negara wajib memastikan distribusi manfaat dan beban yang adil. Penggunaan royalti nikel tidak boleh hanya untuk mensubsidi industri, tetapi harus diprioritaskan untuk memulihkan kerugian ekonomi warga," ujarnya, Minggu (30/11/2025) di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta.
Isu Free, Prior, and Informed Consent (FPIC) menjadi sorotan utama. Jangan sampai label energi bersih justru menjadi legitimasi untuk merampas hak ruang hidup komunitas lokal tanpa persetujuan mereka.
Banyak mungkin yang bertanya bagaimana cara membongkar praktik klaim hijau palsu? Zakki Amali, Research Manager di Trend Asia, memperkenalkan teknik investigasi Follow The Money. Ini adalah metode menelusuri aliran dana untuk menemukan siapa "bos" sebenarnya di balik kerusakan lingkungan.
"Siapa pelanggan atau pembeli utama? Apa ada kontrak besar jangka panjang? Lebih banyak uang yang terlibat, berarti lebih banyak leverage untuk advokasi," papar Zakki.
Baca Juga: Larang Perdagangan Daging Anjing dan Kucing, DMFI Apresiasi Langkah Progresif Gubernur DKI
Di acara tersebut, para jurnalis diajak membedah struktur perusahaan yang sengaja dibuat rumit, menelusuri peran Bank Pembangunan hingga Dana Kekayaan Negara (SWF).
Hal senada ditegaskan oleh Linda Rosalina dari TuK Indonesia. Ia mengingatkan bahwa bank, terutama Bank BUMN, seringkali tidak netral.
"Bank di Indonesia, utamanya Bank BUMN, menjadi kreditor terbesar dalam memfasilitasi kerusakan lingkungan. Ironinya, keuntungan dari kerusakan itu justru kembali ke pemegang saham di negeri asalnya, bukan di Indonesia," ungkap Linda.
Materi berat ini dirasakan sangat relevan oleh jurnalis yang setiap hari melihat langsung lubang tambang di depan rumah mereka. Rabul Sawal, jurnalis dari Halmahera Timur episentrum nikel mengaku mendapatkan perspektif baru.
"Materi dari Mbak Dwi tentang dampak industri nikel benar-benar 'menampar' realitas kami di Halmahera. Selama ini kami melihat lubang tambang dan sungai yang keruh, tapi workshop ini memberi kami kacamata baru untuk melihat siapa sebenarnya yang membiayai kerusakan di halaman rumah kami. Isu keadilan gender dan hak masyarakat adat yang dibahas sangat relevan," ungkapnya.
CEO Ekuatorial.com, Asep Saefullah, menegaskan bahwa output dari pertemuan dua hari ini adalah aksi nyata berupa liputan mendalam yang berkolaborasi lintas daerah.
Berita Terkait
-
Larang Perdagangan Daging Anjing dan Kucing, DMFI Apresiasi Langkah Progresif Gubernur DKI
-
10 City Car Bekas untuk Mengatasi Selap-Selip di Kemacetan bagi Pengguna Berbudget Rp70 Juta
-
Benarkah SMAN 72 Jakarta Ditinggalkan Siswa Pasca Ledakan? Ini Fakta Mengejutkan dari Bang Doel
-
Maut Siswa di Kolong JakLingko, Gubernur Pramono Anung: Kami Akan Bertanggungjawab
-
Taksi Oleng Tabrak Pembatas Jalan Layang Pesing Telan Korban
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina
- Konser Andrea Bocelli di Borobudur Tetap Digelar, KIBBM Siapkan Tablig Akbar Penolakan
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Truk Molen Tabrak 12 Orang di Halte Bekasi, Enam Tewas dan Kelayakan Kendaraan Disorot
-
Sidang Febrie Adriansyah Berlanjut, Maphi Soroti Dugaan Intervensi Kasus BTS 4G
-
Dari Pilates hingga Padel Tepi Laut, Ini Cara Asyik Isi Akhir Pekan di Pesisir Jakarta
-
Ingin Perbarui Tampilan Rumah? 8 Merek Home and Living Hadir di IDD
-
Menikmati Jogja Lewat Rasa dan Sejarah: Dari Kuliner Kampung hingga Meditasi Jiwa