Tasmalinda
Kamis, 15 Januari 2026 | 15:49 WIB
Orang-orang berkumpul di Lapangan Enghelab setelah seruan pemerintah untuk berunjuk rasa menentang protes baru-baru ini di seluruh negeri, meneriakkan slogan anti-AS dan anti-Israel, di Teheran, Iran, pada 12 Januari 2026. ANTARA/Fatemeh Bahrami/Anadolu/pri.
Baca 10 detik
  • Seorang ayah di Indonesia kehilangan kontak dengan dua anaknya di Iran selama lima hari akibat pembatasan jaringan komunikasi.
  • Anak-anak tersebut tinggal di Iran, salah satunya menetap lama dan satunya sedang menempuh pendidikan di sana.
  • Pemerintah Indonesia terus memantau WNI di Iran serta menyiapkan langkah antisipatif jika situasi keamanan memburuk.

SuaraJakarta.id - Sudah lima hari seorang ayah di Indonesia hidup dalam kegelisahan setelah kehilangan kabar dari dua anaknya yang menetap di Iran. Upaya menghubungi lewat telepon, pesan singkat, hingga media sosial tak membuahkan hasil. Sunyinya komunikasi membuat kekhawatiran terus menumpuk, seiring kabar pembatasan internet dan situasi keamanan di Iran.

Sang ayah, Husein komunikasi dengan kedua anaknya sebelumnya berjalan lancar. Mereka hampir setiap hari saling bertukar kabar. Namun sejak jaringan komunikasi terganggu, semua jalur seolah tertutup.

“Biasanya kami selalu berhubungan. Tapi sekarang sudah lima hari benar-benar tidak ada kabar sama sekali,” ujarnya melansir laporan BBC Indonesia.

Menurut penuturannya, salah satu anaknya telah tinggal di Iran selama lebih dari satu dekade dan sudah berkeluarga. Sementara anak lainnya berada di negara tersebut untuk menempuh pendidikan. Kabar terakhir yang ia terima, kondisi di sekitar tempat tinggal anak-anaknya masih relatif normal.

“Sebelum tidak bisa dihubungi, mereka bilang keadaan masih aman dan aktivitas sehari-hari berjalan seperti biasa,” katanya.

Namun situasi berubah drastis ketika akses internet dan komunikasi di Iran dibatasi. Sejak saat itu, ia hanya bisa memantau perkembangan situasi lewat pemberitaan media, tanpa kepastian tentang kondisi anak-anaknya.

“Sebagai orang tua, pasti cemas. Saya hanya bisa berdoa supaya mereka baik-baik saja,” tuturnya dengan nada lirih.

Situasi terkini disebutkan terjadi pembatasan internet di Iran yang berdampak langsung pada warga asing dan keluarga mereka di luar negeri. Pemutusan atau pembatasan jaringan komunikasi kerap terjadi saat situasi keamanan memanas.

Akibatnya, bukan hanya warga di dalam negeri yang terdampak, tetapi juga keluarga mereka yang berada ribuan kilometer jauhnya. Tanpa akses komunikasi, keluarga hanya bisa menebak-nebak kondisi orang terdekat yang berada di wilayah terdampak.

Baca Juga: Cek Fakta: Benarkah Jokowi Berharap Tak Dipenjara Jika Ijazahnya Palsu?

“Kami di sini hanya bisa menunggu dan berharap ada kabar. Satu pesan saja sudah sangat menenangkan,” ujar sang ayah.

Dalam laporan yang sama, pemerintah Indonesia melalui perwakilan diplomatiknya menyatakan terus memantau kondisi warga negara Indonesia di Iran. WNI diimbau untuk tetap waspada, menghindari lokasi-lokasi rawan, serta menjaga keselamatan diri di tengah situasi yang belum sepenuhnya stabil.

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Indonesia melalui KBRI di Tehran memantau secara seksama situasi keamanan dan kondisi WNI di Iran. Berdasarkan penilaian kondisi per 12 Januari lalu, Kemlu bilang belum diperlukan evakuasi.

"Namun demikian, persiapan mengantisipasi eskalasi situasi keamanan sesuai rencana kontigensi terus dilakukan," bunyi siaran pers Kemlu.

Meski belum ada keputusan evakuasi, pemerintah disebut menyiapkan langkah-langkah antisipatif jika situasi memburuk. Sementara itu, keluarga di Tanah Air harus bersabar menghadapi ketidakpastian yang menguras emosi.

Kisah seorang ayah yang menanti kabar dari Iran ini menjadi potret nyata dampak krisis komunikasi di tengah gejolak sebuah negara. Di balik angka dan laporan situasi, ada kecemasan orang tua, doa keluarga, dan harapan sederhana: mendengar suara anak-anak mereka kembali.

Load More