- Vans Knu Skool, sepatu bergaya tebal era 90-an, kini populer menggantikan tren sepatu ramping.
- Sepatu yang awalnya dirancang untuk skate ini memiliki fitur seperti sol tebal dan lidah besar.
- Popularitas Knu Skool meningkat drastis karena diadopsi generasi muda dalam gaya streetwear dan Y2K.
SuaraJakarta.id - Tren sepatu ramping perlahan mulai tergeser. Di tengah maraknya gaya minimalis, satu model justru tampil melawan arus dan sukses mencuri perhatian yakni Vans Knu Skool. Dijuluki sebagai “sepatu gembrot”, siluet tebal khas era 90-an ini kini kembali merajai rak toko dan linimasa media sosial.
Tak sekadar nostalgia, comeback Vans Knu Skool menjelma jadi fenomena. Banyak seri dilaporkan cepat habis, bahkan beberapa warna menjadi incaran kolektor dan sneaker enthusiast.
Vans Knu Skool pertama kali dikenal sebagai sepatu skate dengan desain bulky, bantalan tebal, dan lidah sepatu yang besar—ciri khas sepatu era akhir 1990-an hingga awal 2000-an. Saat itu, fungsi dan durabilitas lebih diutamakan ketimbang siluet ramping.
Kini, estetika tersebut justru dianggap “keren”. Generasi muda mengadopsi Knu Skool sebagai bagian dari gaya Y2K, streetwear, hingga anti-mainstream fashion yang menolak standar lama soal sepatu ideal.
Julukan itu bukan tanpa alasan. Dibanding Old Skool atau Authentic yang ramping, Knu Skool tampil dengan:
- Sol tebal dan kokoh
- Lidah sepatu ekstra empuk
- Tali besar yang mencolok
- Logo side stripe yang lebih bold
- Alih-alih terlihat “berat”, desain ini justru memberi kesan santai, rebel, dan ekspresif—sesuatu yang kini dicari anak muda.
Popularitas Vans Knu Skool melonjak setelah banyak dipamerkan oleh kreator fashion, skater, hingga musisi indie. Foto outfit of the day (OOTD) dengan Knu Skool kerap viral, terutama dipadukan dengan celana baggy, jeans longgar, atau cargo pants.
Tak heran jika beberapa toko melaporkan stok cepat habis. Di platform online, harga Knu Skool bahkan bisa melambung untuk warna tertentu.
Kembalinya Vans Knu Skool seolah menjadi penanda perubahan selera. Sepatu tak lagi harus terlihat tipis dan “aman”. Justru yang besar, mencolok, dan punya cerita masa lalu kini lebih dihargai.
Bagi sebagian orang, Knu Skool bukan sekadar alas kaki, tapi simbol kebebasan berekspresi—bahwa gaya tak harus selalu mengikuti pakem.
Baca Juga: Cek Fakta: Benarkah Prabowo Ingin Jadikan Purbaya sebagai Presiden Tahun Depan?
Satu hal jelas yakni tren boleh berputar, tapi sepatu yang pernah dianggap “terlalu besar” kini justru jadi rebutan.
Berita Terkait
-
7 Sepatu Lokal Indie Keren untuk Gaya Anti Mainstream, Nomor 4 Paling Susah Didapat
-
5 Alasan Salomon XT 6 Jadi Grail Baru Anak Jakarta di 2025, Harga dan Hype Makin Naik
-
5 Alasan Sandal Karet Tetap Jadi Pilihan, Solusi agar Kaki Nyaman Melangkah Tanpa Pegal
-
9 Rekomendasi Brand Sepatu Sneakers Lokal Berkualitas
-
Tampilkan Produk Sandal Kolaboramie Indomie, Sandalboyz dan Tahilalats Ikuti Ajang Internasional DesignerCon di US
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Bencana Alam Tak Bisa Dihitung dengan Kalkulator
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
Terkini
-
5 Tahun Holding UMi, BRI Perkuat Pembiayaan dan Pemberdayaan Usaha Ultra Mikro
-
Dari Cirebon ke Taipei, Tati Purwanti Bawa Kuliner Lokal dan Tumbuh Bersama BRI
-
Wajah Baru Museum Kediri, Kini Jadi Pusat Layanan Budaya Terpadu
-
Raih Penghargaan IDX Channel 2026, BRImo Taiwan Jadi Solusi Keuangan Diaspora dan PMI
-
Kasus Dolar Singapura Palsu, Kuasa Hukum Ungkap Janji Imbalan 1.500 SGD Per Lembar