- Wisatawan di Kepulauan Seribu melakukan digital detox untuk mengatasi kelelahan akibat ketergantungan pada media sosial dan ponsel.
- Peserta mengalami tantangan kegelisahan di awal, namun beralih menjadi ketenangan serta fokus yang meningkat setelah tidak mengakses internet.
- Aktivitas tanpa perangkat digital terbukti membantu menjaga kesehatan mental, memperbaiki kualitas tidur, serta mempererat hubungan sosial secara langsung.
SuaraJakarta.id - Bayangkan satu akhir pekan tanpa notifikasi WhatsApp, tanpa scrolling media sosial, bahkan tanpa sinyal ponsel sama sekali. Bagi sebagian orang, ini terdengar seperti mimpi buruk. Tapi di Kepulauan Seribu, pengalaman itu justru menjadi “kemewahan” baru yang dicari banyak orang.
Bahkan pengalaman ini dipopulernya dengan sebutan digital detox. Tren ini bukan sekadar gaya hidup, melainkan respons terhadap kelelahan digital yang makin nyata. Lalu, bagaimana rasanya benar-benar “hilang” dari dunia online selama dua hari?
Hari Pertama: Gelisah, Refleks Cek HP
Sesampainya di salah satu pulau di Kepulauan Seribu, sinyal mulai menghilang. Awalnya terasa aneh.
Tangan refleks membuka ponsel. Tidak ada notifikasi. Tidak ada internet.
“Di 3 jam pertama, saya masih sering cek HP. Seperti ada yang kurang,” ujar Raka (29), salah satu wisatawan yang mencoba pengalaman ini.
Fenomena ini ternyata umum. Otak kita sudah terbiasa dengan dopamin dari notifikasi. Saat itu hilang, muncul rasa gelisah.
Hari Kedua: Mulai Menikmati “Hening”
Masuk hari kedua, perubahan mulai terasa. Tanpa distraksi digital, aktivitas sederhana jadi lebih bermakna:
Baca Juga: April Paling Ajib di NOYA, Saat Musik Global Menyatu dengan Gaya Hidup Urban Jakarta
- Duduk di tepi pantai sambil membaca buku
- Mengobrol tanpa gangguan notifikasi
- Menikmati matahari terbenam tanpa kamera
“Justru di sini saya sadar, selama ini terlalu sibuk dengan layar,” kata Nina (32), pekerja kantoran asal Jakarta.
Banyak yang mengaku tidur lebih nyenyak dan merasa lebih rileks hanya dalam waktu singkat.
Pengalaman ini bukan sekadar tren. Ada dampak nyata yang dirasakan:
1. Fokus Kembali Pulih
Tanpa distraksi, otak bisa “reset” dari kebiasaan multitasking digital.
2. Kesehatan Mental Lebih Stabil
Mengurangi paparan informasi berlebih membantu menurunkan stres dan kecemasan.
3. Hubungan Sosial Lebih Berkualitas
Percakapan jadi lebih dalam karena tidak terganggu gadget.
Tapi Tidak Semua Nyaman
Tag
Berita Terkait
-
Super Air Jet Beroperasi di Bandara Dhoho Kediri, Mas Dhito Hadirkan Berbagai Promo Wisata Menarik
-
Gandeng Raksasa Pengembang Jepang, Sinar Mas Land Hadirkan Kota Wisata Ecovia
-
Bukan Sekadar Transportasi: Whoosh Jadi Ikon Wisata Baru Indonesia
-
Dukung Wisata Lokal, Swiss-Belresidences Kalibata Jadi Official Venue Abang None Jaksel 2025
-
Liburan Sekolah Tiba! 7 Rekomendasi Wisata Anak di Jakarta yang Seru dan Edukatif
Terpopuler
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
- 6 Smartwatch di Bawah Rp1 Juta, Fitur Premium untuk Aktivitas Sehari-hari
- Kata Anak Pinkan Mambo Usai Tahu Sang Ibu Ngamen di Jalan: Downgrade Semenjak Nikah Sama Suaminya
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
Pilihan
-
Akses Jalan Diblokir, Warga Kepung Pesantren Darul Istiqamah Maros
-
Brady Ebert Bekas Gitaris Turnstile Ditangkap Terkait Kasus Percobaan Pembunuhan
-
Tak Ganggu Umat Muslim, Pihak Yayasan Pastikan Rumah Doa Jemaat POUK Tesalonika Jauh dari Masjid
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
Terkini
-
Akhir Pekan Tanpa Sinyal! Review Digital Detox di Kepulauan Seribu, Tanpa HP Tapi Bikin Ketagihan
-
Berani Jebol Garis Polisi, Aktivis Geruduk Mabes Polri Desak Tangkap Bos Tambang Ilegal di Bolmong
-
April Paling Ajib di NOYA, Saat Musik Global Menyatu dengan Gaya Hidup Urban Jakarta
-
Siswa Terima MBG Fresh 5 Hari, Sementara 3B dan Daerah 3T Dapat Menu Kering
-
1.256 SPPG di Indonesia Timur Disuspend, Tak Daftar SLHS dan Tanpa IPAL