- Pelari urban di Jakarta kini mengadopsi tren lari santai tanpa target kecepatan untuk mengutamakan kenyamanan dan ketenangan diri.
- Aktivitas ini dilakukan di berbagai taman kota Jakarta sebagai sarana rehat dari rutinitas serta menjaga kesehatan mental.
- Tren ini mendorong pelari memilih sepatu dengan bantalan tebal guna mendukung kenyamanan fisik selama beraktivitas dengan ritme lambat.
SuaraJakarta.id - Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang nyaris tak pernah tidur, muncul tren baru di kalangan pelari urban yakni berlari tanpa target kecepatan. Bukan lagi soal pace, bukan pula mengejar personal best, melainkan menikmati setiap langkah.
Gaya ini dikenal sebagai slow living running, lari santai yang menempatkan kenyamanan dan ketenangan sebagai tujuan utama.
Fenomena ini kian terasa di berbagai ruang hijau ibu kota, mulai dari Taman Suropati hingga Taman Menteng. Pagi hari atau menjelang senja, para pelari terlihat bergerak perlahan, sesekali berhenti, bahkan tak jarang hanya berjalan sambil menikmati udara segar yang semakin langka.
Berbeda dengan tren lari beberapa tahun lalu yang identik dengan kompetisi dan angka—mulai dari pace hingga jarak tempuh gaya slow living justru mengajak pelari “melambat”.
Banyak pelari kini memilih untuk mengurangi tekanan target waktu, fokus pada napas dan ritme tubuh serta menikmati suasana taman, pepohonan, dan interaksi sosial
“Kadang saya lari cuma 3 km, tapi rasanya lebih puas dibanding dulu 10 km ngejar waktu,” ujar seorang pelari, Dita dari komunitas lari di Jakarta Selatan.
Seiring tren ini, pilihan sepatu lari juga ikut berubah. Pelari kini cenderung memilih sepatu dengan bantalan tebal (max cushioning) untuk menunjang kenyamanan, bukan kecepatan.
Beberapa model yang populer di kalangan pelari santai antara lain:
- Hoka Clifton 9 – dikenal dengan bantalan empuk dan ringan
- Nike ZoomX Invincible Run – menawarkan sensasi “bounce” yang lembut
- Adidas Ultraboost – nyaman untuk jogging santai dan jalan kaki
Sepatu jenis ini membantu mengurangi tekanan pada kaki dan sendi, terutama bagi pelari yang ingin menikmati waktu lebih lama tanpa kelelahan berlebih.
Taman Kota Jadi “Escape” dari Rutinitas
Baca Juga: Jarang Diketahui! Cara Hemat Naik LRT & MRT Jakarta, Bisa Irit Ratusan Ribu Sebulan
Jakarta mungkin dikenal padat dan panas, namun taman kota kini menjadi oase kecil bagi warga yang ingin rehat sejenak dari rutinitas.
Beberapa spot favorit untuk slow running:
- Taman Lapangan Banteng
- Tebet Eco Park
- GBK Senayan
Di tempat-tempat ini, lari bukan lagi aktivitas fisik semata, tapi juga bentuk healing—cara sederhana untuk menjaga kesehatan mental di tengah tekanan kota besar.
Tren slow living running mencerminkan perubahan gaya hidup masyarakat urban. Di tengah tuntutan produktivitas yang tinggi, banyak orang mulai sadar bahwa tubuh dan pikiran juga butuh jeda.
Lari perlahan di taman kota, dengan sepatu yang nyaman, menjadi simbol kecil dari perlawanan terhadap hidup yang terlalu cepat.
Bukan soal siapa paling cepat sampai garis finish, tapi siapa yang paling bisa menikmati perjalanan.
Tag
Berita Terkait
-
Hemat Bagasi Tanpa Ribet, Sepatu Lari Multifungsi Ini Bisa Dipakai Jogging, ke Mall hingga Traveling
-
5 Sepatu Lari yang Tetap Keren Dipakai Ngantor di Sudirman, Nyaman Seharian Tanpa Ganti Sepatu
-
Review Jujur Sepatu Lari Murah di Decathlon, Layakkah Dipakai Lari 5 Km Setiap Pagi di 2026?
-
Budget Cuma 500 Ribu di 2026? Ini 7 Sepatu Lari Nyaman yang Banyak Dipakai Mahasiswa
-
Masih Punya Sisa THR? Ini 7 Sepatu Lari Terbaik untuk Mulai Hidup Sehat Sekarang
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
Terkini
-
Kebutuhan Lift dan Eskalator Meningkat Seiring Pertumbuhan Properti Modern
-
Lift Rumah Makin Diminati, Hunian Mewah Kini Utamakan Kenyamanan dan Aksesibilitas
-
Mas Dhito Pastikan Pemkab Kediri Siap Kawal Keberhasilan Program Sekolah Rakyat
-
BRI Bantu UMKM "Its Me Time" Asal Sidoarjo Jawa Timur Naik Kelas, Tembus Pasar Global
-
Kenalkan Budaya Betawi Sejak Hari Pertama, MTsN 41 Jakarta Gelar Palang Pintu