Ronald Seger Prabowo
Sabtu, 05 September 2026 | 15:43 WIB
Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta, Dimaz Raditya. [Suara.com/dok]
Baca 10 detik
  • Komisi C DPRD DKI Jakarta bersama pengelola menyepakati kenaikan tarif masuk Taman Margasatwa Ragunan menjadi Rp10.000 untuk meningkatkan fasilitas.
  • Kenaikan tarif ini bertujuan mengurangi subsidi APBD DKI Jakarta sebesar 70 persen agar Ragunan dapat bertransformasi menjadi BLUD mandiri.
  • Tambahan pendapatan akan dialokasikan untuk memperbaiki keamanan kandang, menambah dokter hewan, dan meningkatkan kesejahteraan pegawai Ragunan.

Menurut dia, penambahan pendapatan dari penyesuaian harga tiket masuk harus dialokasikan pada aspek-aspek vital, seperti perbaikan sanitasi, kebersihan toilet, hingga program pemuliaan satwa. Dan juga kesejahteraan pegawai dan unsur pendukung Ragunan juga harus bisa diprioritaskan nantinya.

“Kondisi satwa harus tetap prima. Bahkan untuk satwa besar seperti gorila jantan yang saat ini belum memiliki pasangan, kita dorong agar ada skema pertukaran satwa antar kebun binatang agar bisa mendapatkan gorila betina sehingga mereka bisa berkembang biak dengan layak. Kesejahteraan pegawai dan petugas teknis di lapangan juga harus diperhatikan. Semua ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit,” beber politisi PDI Perjuangan itu.

Penambahan pemasukan yang diterima pengelola Ragunan dari penyesuaian harga tiket masuk juga dapat dimanfaatkan untuk menambah jumlah dokter hewan.

Kata Kent, jumlah dokter hewan di Taman Margasatwa Ragunan belum sebanding dengan jumlah satwa yang berjumlah lebih dari 2.200 satwa.

“Ada lebih dari 2.200 jumlah satwa di Taman Margasatwa Ragunan, tetapi jumlah dokter hewannya hanya berjumlah 8 orang, kan timpang sekali ini. Kalau penyesuaian tarif tiket masuk bisa menambah pemasukan, maka penambahan dokter hewan harus menjadi hal prioritas yang wajib dilakukan,” pungkasnya.

Di sisi lain, Kepala Taman Margasatwa Ragunan, drh. Endah Rumiyanti, menyambut baik adanya wacana penyesuaian harga tarif masuk.

Endah mengungkapkan, pihaknya terlalu bergantung dengan APBD DKI Jakarta setiap tahunnya. Sementara, pendapatan tiket masuk cenderung stagnan selama 20 tahun terakhir.

“Total kebutuhan anggaran operasional kami per tahunnya mencapai sekitar Rp160 miliar, tapi pendapatan mandiri yang mampu kami kumpulkan baru sekitar Rp30 miliar per tahun. Artinya, tingkat subsidi dari pemerintah daerah masih berada di kisaran 70 persen,” ungkap Endah.

Walau demikian, Endah menegaskan, bahwa wacana penyesuaian tarif bukanlah bentuk komersialisasi kawasan, melainkan upaya reorientasi pelayanan publik agar Ragunan dapat merealisasikan masterplan pengembangan kawasan secara sistematis.

Baca Juga: Kawal Kerja Pansus DPRD DKI, Demokrat: Kami Ingin Produk Legislasi Konkret!

“Bila penyesuaian tarif ini terlaksana, fokus utama kami adalah pembenahan fasilitas pendukung, perbaikan serta pemeliharaan kandang satwa, hingga penataan sistem zonasi kawasan berdasarkan masterplan yang telah disusun. Goal utamanya adalah menghadirkan ruang terbuka hijau dan kebun binatang berstandar internasional yang aman, nyaman, dan edukatif,” papar Endah.

Load More