SuaraJakarta.id - Unjuk rasa menolak Undang-undang Cipta Kerja di Jakarta meninggalkan banyak sampah berserakan. Tercatat sebanyak 398 ton sampah diangkut oleh petugas.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta Andono Warih mengatakan begitu aksi yang berujung kerucuhan selesai, pihaknya menerjunkan 1.100 petugas tim oranye untuk membersihkan sampah.
Selain itu dikerahkan juga mobil penyapu jalan otomatis atau road sweeper sebanyak 12 unit.
![Dinas Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Jakarta mengumpulkan 398 ton sampah [Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2020/10/09/34080-ilustrasi-sampah.jpg)
Sampah yang terkumpul terbagi menjadi beberapa jenis. Mulai dari plastik, kaca, hingga puing-puing bekas kerusuhan.
Baca Juga:Heboh Plaza Medan Fair Dijarah Massa, Polisi: Hoaks
"Sampai saat ini terkumpul sampah seberat 398 ton, ada puing, pecahan kaca, dan sampah lainnya sisa dari aksi massa kemarin," ujar Andono kepada wartawan, Jumat (9/10/2020).
Selain itu, untuk mengangkut sampah, dikerahkan juga 12 unit pikap, 20 unit truk sampah anorganik, dan 30 unit truk sampah tiper. Para petugas juga mengumpulkan sampah menggunakan karung dan sapu.
![Sejumlah petugas membersihkan puing Halte Bus Trans-Jakarta Tosari yang hangus saat kericuhan unjuk rasa menolak pengesahan Undang-Undang Cipta Kerja di Jalan MH. Thamrin, Jakarta, Jumat (9/10/2020). [Suara.com/Oke Atmaja]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2020/10/09/84116-halte-tosari.jpg)
"Kami juga siapkan 1.000 karung dan 500 sapu," katanya.
Hingga Jumat siang, ia menyebut petugas dan armada masih terus melakukan pembersihan jalan serta fasilitas umum dari sampah dan puing di sejumlah lokasi.
"Sekarang kami lakukan gerebek puing di lintasan Transjakarta dari Thamrin sampai dengan Gajah Mada. Kita terus bergerak dan menyisir sampai tuntas," pungkasnya.
Baca Juga:Sikap Represif Aparat Kawal Pendemo di Riau Tuai Kritikan