facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Kepiluan di Balik Topeng Badut Kusmiyani, Tulang Punggung Keluarga-Biayai Berobat Suami

Rizki Nurmansyah Selasa, 17 Agustus 2021 | 17:31 WIB

Kepiluan di Balik Topeng Badut Kusmiyani, Tulang Punggung Keluarga-Biayai Berobat Suami
Kusmiyani, ibu tiga anak yang menjadi badut jalanan demi menafkahi keluarga ditemui di Taman Witana Harja, Pamulang, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Selasa (17/8/2021). [SuaraJakarta.id/Wivy Hikmatullah]

"Suami nggak tahu aktivitas saya di luar rumah. Karena saya menghormati suami. Walaupun kondisinya sakit dan nggak bisa nafkahi, dia tetap suami yang baik," sambungnya.

SuaraJakarta.id - Siang itu, Selasa (17/8/2021), di tengah peringatan Hari Kemerdekaan HUT ke-76 RI, seorang badut jalanan membawa bocah lelaki duduk di bawah pohon yang rindang, berteduh dari sengatan sinar matahari yang terik. Sesekali ia mengelap keringat di balik topeng badut dan meneguk air mineral untuk menghilangkan dahaga.

Siapa sangka, di balik topeng badut itu ternyata adalah sesosok perempuan tangguh dan tegar. Namanya Kusmiyani, warga yang tinggal di Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Dengan memakai kerudung berwarna krem dan topeng, wanita paruh baya itu menghias kepalanya dengan rambut kribo palsu berwarna-warni mencolok khas badut.

Bocah lelaki yang ikut menemaninya berkeliling menjadi badut jalanan tak lain adalah putra bungsunya. Sembari memakai kostum dan topi merah bertuliskan huruf M seperti tokoh game Mario Bros, bocah lima tahun itu menggenggam bendera Merah Putih kecil, simbol turut memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia.

Di balik topeng badut nan lucu, Kusmiyani menyimpan cerita pilu yang mendalam. Wanita berusia 42 tahun itu terpaksa menjadi badut jalanan untuk mencari rezeki guna menafkahi suami dan anak-anaknya.

Baca Juga: Viral Bocah Badut Pengamen Palak Bapak-bapak Tunadaksa Demi Uang Rp 2 Ribu

Sang suami yang setahun lebih tua usianya, sudah tidak mampu lagi bekerja. Kesehatan fisiknya menurun lantaran mengidap penyakit jantung. Praktis, Yani—sapaan akrabnya—kini menjadi tulang punggung keluarga, mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari.

Tak terasa, sudah lima tahun profesi badut jalanan digeluti Kusmiyani. Terutama sejak sang suami menderita sakit jantung hingga tak bisa lagi menopang kebutuhan hidup keluarga.

"Sudah lima tahunan, sejak bapaknya sakit jantung. Sudah nggak bisa kerja lagi, akhirnya saya harus jadi tulang punggung keluarga," kata Yani saat ditemui SuaraJakarta.id—grup Suara.com—di Taman Witana Harja Pamulang, Tangsel, Selasa (17/8/2021).

Kusmiyani bersama putra bungsunya saat mengamen sebagai badut jalanan di sebuah minimarket di Pamulang, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Selasa (17/8/2021). [SuaraJakarta.id/Wivy Hikmatullah]
Kusmiyani bersama putra bungsunya saat mengamen sebagai badut jalanan di sebuah minimarket di Pamulang, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Selasa (17/8/2021). [SuaraJakarta.id/Wivy Hikmatullah]

Selain kostum badut, Yani hanya membawa sound system berukuran persegi panjang yang dimasukkan ke dalam tas dan digendong menyamping.

Saat lagu diputar, dengan perasaan malu namun terpaksa, Yani berjoget kecil di hadapan orang yang didatanginya. Baik di depan minimarket, warung kelontong, ataupun tempat-tempat jajanan pinggir jalan yang ada aktivitas warga.

Baca Juga: Dikira Mau Demo, Mahasiswa UIN Walisongo Berubah Jadi Badut Demi Hibur Pasien Covid-19

Sementara sang anak berperan membawa plastik bekas bungkus permen dan tas kecil untuk menaruh uang yang didapat. Tanpa kenal lelah dan mengeluh, perlahan setiap tempat disisir Yani dan putranya, berharap kedermawanan orang yang ditemui mereka.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait