Meski di usianya yang mencapai ratusan tahun, hingga kini, Langgar Tinggi masih kokoh berdiri. Pondasinya yang menggunakan batu candi yang masih terkunci rapat dan tidak tergerus zaman.
Langgar berlantai kayu jati nomor wahid, menurut Achmad, sekaligus menjadi saksi bisu sejarah perubahan warna pada Kali Angke. Jika diamati, bangunan ini memiliki tiga aksen budaya yakni Cina, Arab, dan Portugis.
“Ini ada beberapa perpaduan budaya, ini dia punya pondasi itu dari batu cina atau batu candi yang saling mengikat, sehingga tidak mudah erosi atau retak. Ini batu cina nih panjangnya ada yang dua meter, ada yang semeter, mereka saling mengikat. Nah untuk arsitek mereka perpaduan Portugis, Arab dan Cina,” paparnya.
Selama bangunan ini berdiri, Achmad mengemukakan, belum ada perubahan fisik secara signifikan. Sehingga keaslian bangunan masih dipertahankan hingga kini, meski ada beberapa bagian bangunan yang direnovasi atau mengalami perbaikan.
Baca Juga:Kisah Salah Arah Kiblat dan Karomah Syekh Nawawi al-Bantani di Masjid Jami An Nawier Pekojan
“Yang ada disini, bahan jati yang betul-betul kelas tinggi. Sehingga hingga saat ini, bahan jati belom ada yang diubah. Belum ada yang diganti. Paling renovasi sekitar tembok yang gempur.”
Pernah Menjadi Masjid
Meski Langgar Tinggi merupakan musala, fungsinya ternyata pernah berubah menjadi masjid. Lantaran pernah menggelar Salat Jumat.
Namun itu tidak berlangsung lama. Achmad mengemukakan, perubahan fungsi sementara tersebut terjadi saat Masjid An Nawier, yang berdekatan dengan Langgar Tinggi sedang dalam proses renovasi.
“Selama saat itu diperbaiki, diperbesar. Dulu An Nawier kecil, diperbesar oleh Bangsa Alaydrus, (Salat) Jumat pindah ke Langgar Tinggi. Jadi ini tadinya langgar pernah jadi masjid, tapi sekarang tetep jadi langgar. Setelah selesai, maka jemaah pindah Salat (Jumat) kembali ke masjid. Karena itu masjid ini langgar atau musala,” ungkapnya.
Baca Juga:Bubur India, Sajian Buka Puasa di Masjid Pekojan Semarang
Kontributor : Faqih Fathurrahman