HUT RI ke-77, Veteran Perang di Tangsel: Makna Kemerdekaan Mulai Luntur

"...Tidak boleh kemerdekaan ini dihilangkan sampai kapanpun. Karena perjuangannya tidak mudah..."

Rizki Nurmansyah
Kamis, 18 Agustus 2022 | 19:22 WIB
HUT RI ke-77, Veteran Perang di Tangsel: Makna Kemerdekaan Mulai Luntur
Nurhasan (tengah), Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Cabang Tangsel, usai berbincang di kantornya. [SuaraJakarta.id/Wivy Hikmatullah]

SuaraJakarta.id - Seluruh masyarakat Indonesia merayakan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia atau HUT RI ke-77 pada Rabu, 17 Agustus 2022. Semua bersuka cita menikmati euforia merdeka lepas dari penjajahan.

Sejumlah pejuang yang ikut serta dalam peperangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan juga menikmati kemerdekaan yang diperjuangkanya hingga saat ini.

Lantas, bagaimanakah para veteran perang melihat makna kemerdekaan dulu dan saat ini? Adakah perbedaan yang kontras di antaranya?

Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Cabang Tangerang Selatan (Tangsel), Nurhasan mengatakan, makna kemerdekaan dulu dan sekarang sudah berbeda.

Baca Juga:Petinggi Lain Asyik, Publik Salfok ke Gaya Joget Kapolri: Raga di Istana, Pikiran di Sambo

Di era kekinian itu, dia merasa kemerdekaan yang dia ikut pertahankan dulu mulai memudar dengan melihat realitas saat ini. Contoh sederhana soal bendera Merah Putih.

Nurhasan mengungkapkan, dulu, untuk mengibarkan bendera pusaka itu harus bertaruh nyawa dari penjajah Belanda.

Mereka yang beruntung, kata Nurhasan, bisa mengibarkan bendera dan melakukan penghormatan dengan hati yang tetap waswas. Tapi yang tak beruntung, tewas diberondong peluru.

"Rakyat ini sudah merdeka tapi lupa sama kemerdekaannya. Lupanya gimana? Ada yang pasang bendera ada yang tidak. Padahal itu bendera sang saka Merah Putih, merah tandanya pertumpahan darah, putih tandanya sudah bebas penjajahan," kata Nurhasan ditemui di kantornya.

Nurhasan yang pensiun dengan pangkat terakhir Sersan Mayor (Serma) menambahkan, saat ini banyak kejadian dan peristiwa yang menjadi gejala seolah-olah bangsa Indonesia belum merdeka.

Baca Juga:Video Viral Kocak Emak-emak Lomba Pukul Bantal saat HUT ke-77 Kemerdekaan RI, Publik Fokus ke Hal Ini

Mulai dari masih maraknya korupsi, hingga aksi tindak kriminalitas di lingkungan masyarakat yang dianggapnya tidak menghargai kemerdekaan yang diperjuangkan para pahlawan.

"Banyak gejala-gejala belum merdeka. Ini sangat disayangkan, korupsi banyak, orang masih mau nodong, maling juga banyak, ini ke mana kemerdekaanya?" tanyanya mengeluh.

"Makin ke sini, makin memudar. Tidak boleh kemerdekaan ini dihilangkan sampai kapanpun. Karena perjuangannya tidak mudah. Bukan ribuan, tapi ratusan ribu pejuang mati demi kemerdekaan yang saat ini dirasakan," sambungnya.

Nurhasan, diusianya yang hampir satu abad, 96 tahun, masih ingat betul perjalanannya sebagai prajurit pejuang kemerdekaan. Warga asli Ciputat itu mengaku, mulai bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada akhir tahun 1945.

Meski sudah merdeka, tapi situasi saat itu masih bergejolak. Saat itu, usianya baru mau menginjak kepala dua dan sudah memutuskan untuk menjadi bagian prajurit pejuang kemerdekaan di bawah komando Jenderal Soedirman.

"Hidup atau mati kita berjuang untuk Indonesia. Yang dibela bukan pribadi, tapi seluruh rakyat Indonesia, negara Indonesia," katanya sambil mengingat memori perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Pada tahun 1946, lanjut Nurhasan, suasana nusantara usai merdeka masih mencekam. Pasalnya, Belanda belum sepenuhnya angkat kaki dari bumi pertiwi. Di tahun yang sama, bahkan kembali terjadi gejolak peperangan.

Perjuangan mempertahankan kemerdekaan semakin berat. Lantaran tak hanya melawan penjajah, tapi para pejuang juga harus melawan pribumi yang jadi antek-antek Belanda.

"Kita bertempur bukan (hanya) sama Belanda, tapi sama bangsa sendiri yang mengikuti Belanda," ungkapnya.

Setelah pergolakan itu memuncak, hingga menyebabkan peristiwa 10 November di Surabaya, kemudian lahirlah gencatan senjata oleh Sultan Sjahrir di Linggarjati, Jawa Barat, yang kemudian dikenal dengan peristiwa Perjanjian Linggarjati.

Beberapa tahun setelah itu, Nurhasan kemudian pensiun setelah ikut berperang melawan penjajah Belanda di bawah komando Jenderal Soedirman.

Kontributor : Wivy Hikmatullah

News

Terkini

Riza mengatakan, dirinya keluar dan menemui massa untuk mendengar apa yang menjadi tuntutan dalam aksi massa KRMP ini.

News | 20:07 WIB

"Selama lima tahun ini kami tidak pernah melakukan penggusuran," ucap Riza.

News | 19:56 WIB

Juga pernah beraksi merampok toko emas di kawasan Tangerang Raya lainnya.

News | 19:51 WIB

Putri keluar Gedung Bareskrim Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan sekitar pukul 17.25 WIB, dengan mengenakan baju tahanan.

News | 19:13 WIB

Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria keluar menemui massa. Hanya saja, ia berdiri di balik gerbang Balai Kota.

News | 18:23 WIB

Anies juga didesak untuk keluar menemui massa. Jika Anies tak kunjung keluar, maka massa tak segan bertahan hingga menginap di lokasi aksi.

News | 17:31 WIB

Ia juga mengatakan secara fisik kondisi Putri Candrawathi dalam keadaan baik.

News | 17:07 WIB

Sigit berharap langkah penahanan yang dilakukan penyidik dapat menjawab pertanyaan publik yang selama ini menanyakan posisi Putri Candrawathi yang tidak kunjung ditahan.

News | 16:54 WIB

Kejadian pencurian kotak amal di Mushola Roudhatul Jannah kerap terjadi.

News | 16:29 WIB

Kapolri juga mengumumkan istri Ferdy Sambo, Putri Candrawatahi ditahan di Rutan Mabes Polri.

News | 16:04 WIB

"Status FS secara resmi sudah tidak menjadi anggota Polri."

News | 15:32 WIB

Dijelaskan penyerangan gangster itu terjadi pukul 02.35 WIB.

News | 15:30 WIB

"Anies justru melanggengkan praktik penggusuran paksa di DKI Jakarta dengan tidak mencabut Peraturan tersebut."

News | 15:25 WIB

Syarifah menyebut penangkapan bermula saat pihak kepolisian mendapat informasi dari warga.

News | 15:22 WIB
Tampilkan lebih banyak