Peserta wisuda lainnya, Zahid Abdurrahman Azzadi, juga tak kalah bahagia. Dia mengakui selama proses menghapal Alquran nyaris tidak menemui kesulitan berarti.
“Saya merasa sangat senang karena sudah mengkhatamkan Alquran. Kesulitan mengapal Alquran, menurut saya, tidak ada. Saya ingin memperdalam belajar Alquran lagi. Setelah ini target saya sebulan ini bisa khatam sekali,” kata Zahid.
Kebahagiaan juga turut dirasakan wali murid. Uche Nugrahawati, misalnya. Ia bangga dan bahagia melihat anaknya mampu menghapal Alquran.

“Rasanya sebagai orang tua, alhamdulillah pasti senang sekali, sangat bahagia karena Alquran itu kan bisa menjadi pegangan untuk anak-anak, tujuannya untuk akhirat juga. Semoga mereka bisa mengamalkannya dalam kehidupan,” tutur Uche.
Baca Juga:CEK FAKTA: Piala Dunia 2022 Dibuka dengan Penampilan Anak-Anak Baca Al-Quran, Benarkah?
Selama enam tahun anaknya berproses menghapal Alquran, Uche tak lelah ikut mendampingi. Dia membantu sang anak membaca Alquran berulang-ulang di rumah setelah pulang sekolah.
“Sehari-hari di rumah kita ulang-ulang terus, kita ajak belajar bareng. Selain itu terutama kita bisa mencontohkan dengan kita membaca rutin. Otomatis anak-anak akan ikut dan mengamalkannya juga,” katanya.
Uche mengapresiasi metode penghapal Alquran yang diterapkan di Madrasah Pembangunan UIN Jakarta. Sebab, dengan menghapal Alquran dapat dijadikan dasar pegangan kehidupan anak hingga dewasa.
“Diharapkan dengan adanya metode pembelajaran ini dapat membekali para siswa mencapai dasar akhlak, serta ke depannya para siswa tidak hanya bagus dalam membaca Alquran, namun juga dapat memahami arti ayat Alquran,” tuturnya.
Baca Juga:Muspimnas PMII UIN Tulungagung Diwarnai Saling Lempar Kursi Peserta