Saran Pesikolog Ke Sekolah Dan Guru Agar Peristiwa Di SMPN 73 Tebet Tak Terulang

Kasus itu aku gak bisa bilang itu perundugan atau enggak, kata Mario

Bangun Santoso | Faqih Fathurrahman
Selasa, 21 Mei 2024 | 22:04 WIB
Saran Pesikolog Ke Sekolah Dan Guru Agar Peristiwa Di SMPN 73 Tebet Tak Terulang
Penampakan gedung SMPN 73 Tebet pasca seorang siswa terjatuh lantai tiga sekolah. (Suara.com/Faqih)

SuaraJakarta.id - Seorang siswa SMPN 73 Tebet, Jakarta Selatan berinisial GAD (13) melompat dari jendela ruang kelasnya yang berada di lantai 3 gedung sekolahnya. Berdasarkan keterangan dari pihak kepolisian, GAD melompat dari jendela karena ingin mengakhiri hidup buntut dijauhi teman sekelasnya.

Psikolog anak dan remaja, Mario Manuhutu mengatakan, dirinya belum bisa memastikan GAD merupakan korban perundungan atau bulliying. Dia menilai, perundugan merupakan tindakan yang dilakukan kepada pihak yang memiliki kekuatan berlebih terhadap pihak yang lemah secara berulang.

“Kasus itu aku gak bisa bilang itu perundugan atau enggak,” kata Mario kepada Suara.com, lewat sambungan telepon, Selasa (21/5/2024).

Bisa saja, menurut para teman GAD melontarkan kata yang biasa saja. Namun GAD menganggapnya sebagai sesuatu yang amat sangat menyakitkan.

“Mungkin dia sensitif, aku gak tau. Kalau dia mencapai berpikir untuk mencoba utk mengakhiri hidupnya, mungkin menurut aku konsep diri anak tersebut ada yang perlu diperbaiki,” katanya.

Kata dia, sikap yang dilakukan GAD lantaran dirinya tidak bisa mengontrol emosi. Saat ini banyak remaja yang tidak bisa mengelola emosi dan memilih jalan pintas.

Dirinya mengaku banyak menangani kasus serupa, tidak jarang juga para remaja yang ditangani Mario, tidak bisa mengontrol dirinya. Mereka cenderung suka menyayat lengan tangan mereka menggunakan pisau sehingga membentuk seperti barcode.

Mario mengatakan, hal itu bukanlah salah si anak. Anak yang memiliki sikap seperti itu perlu ada pendampingan dari berbagai pihak baik dari orang tua atau guru di sekolah. Sehingga anak dapat mengontrol emosinya agar tidak menempuh jalan pintas.

“Mungkin dia perlu bertemu dengan guru bk dan ditenangin dulu biar emosinya reda dan setelah ngobrol, baru deh bisa ngerasa ternyata gak seburuk itu kok. Mungkin ada konselinng terus kemudian jadi ngerasa bisa menemukan ada hal yang baik pada dirinya,” terangnya.

“Paling gak belajar mengelola emosi. ‘Oh iya, ternyata emosinya bisa dikelola’, bisa jadi ada hal yang positif tentang dirinya sendiri, dan perlu dilatih,” tambahnya.

Mario menyebut, fase usia GAD memang sedang melakukan tugas pengembangan diri. Para remaja seusianya memang sedang mencari jati diri dan berupaya agar diterima lingkungan.

Namun perlu dingat, para remaja perlu melihat lingkungan atau kelompok agar bisa mengembangkan diri

“Aku gak diterima ternyata bukan karena aku jelek mungkin minatnya beda. Mungkin aku harus nyari sirkel yang minatnya sama,” jelas Mario.

Dengan merasa diterima dalam kelompok yang tepat, hal itu pasti membuat rasa kepercayaan diri seorang anak meningkat.

“Itulah yang membantu mereka untuk percaya diri,” imbuh dia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak