Awas Greenwashing! CELIOS: Transisi Energi RI Sulit Jalan Kalau Masih Bicara Perut Sendiri

Dalam sebuah forum diskusi strategis di Jakarta, Rani membedah peta jalan transisi energi nasional yang dinilai masih penuh lubang.

Andi Ahmad S
Minggu, 30 November 2025 | 22:55 WIB
Awas Greenwashing! CELIOS: Transisi Energi RI Sulit Jalan Kalau Masih Bicara Perut Sendiri
Ilustrasi energi baru terbarukan (EBT). (ICDX)
Baca 10 detik
  • Transisi energi nasional Indonesia dinilai penuh lubang karena konsep sustainable finance sering hanya menjadi kosmetik laporan tanpa mengubah arah investasi secara substansial di lapangan.

  • Menurut Rani Septyarini (CELIOS), inti dari keuangan berkelanjutan adalah mengubah arah aliran uang ke proyek ramah lingkungan, bukan menghentikan profitabilitas, agar tidak mewariskan bencana.

  • Kesuksesan transisi energi di Indonesia sangat bergantung pada mentalitas para aktornya. Instrumen canggih akan sia-sia jika masih bercokol ego sektoral dan mentalitas koruptif.

SuaraJakarta.id - Isu transisi energi menuju sumber daya yang lebih bersih seringkali terdengar megah di panggung internasional, namun kerap gagap saat menyentuh realitas di lapangan.

Di tengah gempuran istilah-istilah rumit perbankan dan kebijakan iklim, Rani Septyarini dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS) memberikan tamparan realitas yang cukup keras bagi para pemangku kebijakan di Indonesia.

Dalam sebuah forum diskusi strategis di Jakarta, Rani membedah peta jalan transisi energi nasional yang dinilai masih penuh lubang.

Ia menyoroti konsep keuangan berkelanjutan atau sustainable finance yang seharusnya menjadi darah segar bagi pembangunan yang tidak merusak masa depan, bukan sekadar kosmetik laporan tahunan korporasi.

Baca Juga:Bongkar Aliran Dana Energi Hijau: Jurnalis Nusantara Asah Senjata 'Follow The Money' di Jakarta

Namun, Rani menyederhanakannya dengan analogi yang sangat membumi. Prinsipnya bukan menghentikan aliran uang, melainkan mengubah arahnya.

"Uang tetap bekerja seperti biasa, tapi diarahkan ke hal-hal yang tidak merusak masa depan," ujar Rani dalam sesi pemaparannya.

Definisi ini kata Rani secara tegas bahwa profitabilitas tidak harus dikorbankan demi keberlanjutan. Justru, investasi yang merusak lingkungan adalah investasi yang bodong dalam jangka panjang karena mewariskan bencana bagi generasi mendatang.

Dalam kesempatan tersebut, Rani memperkenalkan berbagai instrumen keuangan modern yang kini marak digunakan, seperti Green Bonds (Obligasi Hijau) dan Sustainability-Linked Loans. Instrumen ini dirancang untuk membiayai proyek-proyek ramah lingkungan.

Jurnalis Nusantara Asah Senjata 'Follow The Money' di Jakarta [Ist]
Jurnalis Nusantara Asah Senjata 'Follow The Money' di Jakarta [Ist]

Poin paling menohok dari paparan Rani adalah soal mentalitas para aktor di balik transisi energi ini. Secanggih apapun instrumen keuangannya, dan sebesar apapun dananya, semua akan sia-sia jika mentalitas koruptif dan egois masih bercokol.

Baca Juga:Bonus Demografi Energi: Kisah Anak Muda yang Mengubah Indonesia Jadi Lebih Hijau

Ia menggarisbawahi realitas pahit politik ekonomi di Indonesia. Transisi energi membutuhkan pengorbanan dan kolaborasi lintas sektor yang tulus.

"Tidak akan terjadi transisi energi di Indonesia jika semuanya masih berbicara perut sendiri," tegasnya.

Perlu diketahui, bahwa pernyataan tajam Rani ini disampaikan dalam pertemuan kolaboratif yang diinisiasi oleh Ekuatorial.com, The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) dan Responsibank.

Acara tersebut berlangsung pada Sabtu-Minggu, 29-30 November 2025 di Jakarta ini bertujuan membekali jurnalis dengan wawasan mendalam untuk mengawasi aliran dana transisi energi.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak