- Anak gajah sumatera bernama Yuna mati di PLG Saree Aceh pada Selasa (11/8) akibat dugaan serangan virus EEHV.
- BKSDA Aceh mengambil sampel organ untuk uji laboratorium guna memastikan penyebab kematian Yuna secara pasti.
- Petugas segera melakukan uji medis terhadap gajah anakan lain di bawah usia 14 tahun untuk mengantisipasi penyebaran virus.
Ujang menjelaskan bahwa gajah-gajah binaan BKSDA Aceh di PLG Saree, CRU Peusangan, maupun CRU Trumon selalu mendapatkan pemeriksaan rutin harian dan pemeriksaan kesehatan umum berkala.
Elephant Endotheliotropic Herpesvirus (EEHV) merupakan virus herpes yang secara khusus menginfeksi gajah dan terutama menjadi ancaman bagi anak gajah.
Virus tersebut menyerang lapisan dalam pembuluh darah atau endotelium. Infeksi dapat menyebabkan kebocoran darah dan cairan tubuh ke organ dalam sehingga memicu kondisi fatal dan kematian dalam waktu relatif singkat.
Dalam kasus Yuna, dugaan infeksi EEHV masih memerlukan konfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium terhadap sampel organ yang telah diambil oleh tim medis.
Baca Juga:BRI Perkuat Inklusi Keuangan Lewat BRILink Agen, Sosok di Sumatera Utara Ini Jadi Inspirasi
Langkah tersebut penting untuk memastikan penyebab kematian sekaligus menjadi dasar bagi tindakan pencegahan terhadap gajah lain yang berada dalam pemantauan BKSDA Aceh.
Gajah Anakan Lain Langsung Diperiksa
Kementerian Kehutanan di bawah kepemimpinan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menempatkan perlindungan gajah sumatera sebagai bagian penting dari upaya menjaga keanekaragaman hayati Indonesia. Pemantauan kesehatan, deteksi dini penyakit, serta penanganan medis terhadap gajah binaan menjadi bagian dari langkah konservasi untuk memastikan satwa dilindungi tersebut tetap dapat bertahan dan berkembang biak.
Kematian Yuna juga mendorong BKSDA Aceh meningkatkan kewaspadaan terhadap gajah anakan lain yang berada di wilayah kerjanya. Ujang mengatakan pihaknya langsung melakukan deteksi terhadap gajah berusia di bawah 14 tahun untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya kasus serupa.
"Kami segera melakukan uji medis dan deteksi dini terhadap gajah anakan lain yang berusia di bawah 14 tahun, khususnya gajah Gerry, Yuyun, dan Dilan, guna mengantisipasi serta meminimalkan potensi penyebaran virus tersebut," tutup Ujang.
Baca Juga:Puncak Arus Balik 28-29 Maret, Baru 36 Persen Kendaraan Menyeberang dari Sumatera ke Jawa
Upaya deteksi dini menjadi penting mengingat EEHV dapat menyebabkan penurunan kondisi kesehatan secara cepat. Pemeriksaan terhadap gajah lain diharapkan dapat membantu petugas mengetahui kondisi kesehatan satwa sedini mungkin dan mengambil tindakan medis apabila ditemukan tanda-tanda yang mengarah pada infeksi.
Kementerian Kehutanan melalui BKSDA Aceh juga terus melakukan pemantauan kesehatan gajah binaan sebagai bagian dari upaya menjaga populasi dan kesejahteraan satwa dilindungi tersebut.
Kasus kematian Yuna sekaligus menunjukkan pentingnya pemantauan kesehatan secara rutin, deteksi dini, serta pemeriksaan laboratorium dalam menghadapi ancaman penyakit pada populasi gajah sumatera.