SuaraJakarta.id - Bumi sedang mengalami krisis iklim yang bisa berdampak bagi bumi, manusia, serta berbagai makhluk hidup di dalamnya. Salah satu contoh dampaknya adalah pada ketersediaan pangan. Berdasarkan data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dampak iklim yang terjadi di Indonesia terhadap kesediaan pangan meliputi 40% gagal panen, 25% gagal distribusi, 20% kerusakan infrastruktur, dan 15% pergeseran musim tanam.
Target Keberlanjutan Lingkungan di Indonesia
Untuk mencegah kerusakan lebih jauh lagi pada bumi, Indonesia beserta berbagai negara lainnya telah menandatangani komitmen Sustainable Development Goals. Sebagai bentuk nyata dukungan terhadap komitmen tersebut, Indonesia menyatakan tujuannya untuk mencapai net zero emission (NZE) yang ditargetkan akan tercapai pada tahun 2060 atau lebih cepat jika bisa.
Salah satu langkah nyata yang dilakukan pemerintah adalah dengan mendukung proses elektrifikasi di Indonesia, khususnya dalam bidang transportasi, seperti pajak yang lebih rendah, tersedianya area pengisian daya, dan berbagai keuntungan lainnya.
Baca Juga:BRI Bantu UMKM "Its Me Time" Asal Sidoarjo Jawa Timur Naik Kelas, Tembus Pasar Global
Elektrifikasi dalam hal transportasi ini akan secara efektif mengurangi gas rumah kaca berupa karbon monoksida, karbon dioksida, nitrogen oksid, dan hidrokarbon. Sebab, kendaraan listrik, baik mobil maupun motor, tidak menggunakan proses pembakaran dalam sistem kerjanya, sehingga tidak ada gas buang yang dihasilkan.
Peran PLTS dalam Mendukung Keberlanjutan di Indonesia
Proses elektrifikasi memang secara efektif mengurangi kadar emisi dari gas buang kendaraan, tetapi sayangnya hingga saat ini energi listrik yang dihasilkan masih sangat bergantung pada sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui, yaitu batu bara yang dibakar sebagai sumber energi untuk pembangkit listrik tenaga uap. Artinya, elektrifikasi transportasi mengurangi satu sumber gas rumah kaca, tetapi juga meningkatkan pada sisi lainnya.
Namun, kondisi ini sebenarnya dapat diatasi dengan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya, yaitu pembangkit listrik dengan panel yang akan menyerap panas terik matahari dan kemudian mengubahnya menjadi energi listrik. Proses kerjanya berlangsung secara alami dalam panel dan menggunakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui, yaitu sinar matahari, sehingga lebih ramah lingkungan.
Dari segi geografis, Indonesia juga berada di garis khatulistiwa, sehingga memiliki panas matahari yang cenderung stabil dibandingkan dengan negara lainnya. Kondisi ini membuat pembangkit listrik tenaga surya dapat bekerja lebih maksimal dalam menyerap sinar matahari.
Baca Juga:BGN Dorong Peran Masyarakat dan UMKM Perkuat Rantai Pasok Program MBG
Pemanfaatan PLTS sendiri bisa digunakan untuk kebutuhan individu atau rumahan, maupun kebutuhan bisnis. Bahkan, PLTS sangat disarankan untuk digunakan memenuhi kebutuhan listrik pada sebuah bisnis karena konsumsi listrik yang tinggi, sehingga transisi energi dapat secara efektif mengurangi gas emisi dan secara langsung turut mendukung target NZE di Indonesia.
Kerja sama PT Bukit Muria Jaya dan iForte Energi dalam Membangun PLTS
Sebagai salah satu bukti komitmen dalam mendukung upaya keberlanjutan serta mencapai target NZE tahun 2060, PT Bukit Muria Jaya (BMJ) bekerja sama dengan iForte Energi telah resmi mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap yang berlokasi di fasilitas produksi BMJ di Karawang, Jawa Barat dan Kudus, Jawa Tengah. PLTS tersebut memiliki total kapasitas sebesar 5,5 MWp.
Total energi yang dihasilkan oleh PLTS Atap ini sebesar 7.596 MWh per tahun dan jika diperkirakan, dapat berkontribusi dalam pengurangan emisi karbon mencapai 6.836 ton CO2 setiap tahunnya atau setara dengan penanaman pohon sebanyak 151.928.
Environmental, Social, and Governance (ESG) Lead PT Bukit Muria Jaya Harris C A Titus menyatakan peresmian PLTS Atap ini menjadi bukti bahwa aspek keberlanjutan menjadi fokus penting dalam strategi pertumbuhan jangka panjang PT Bukit Muria Jaya dalam penyediaan energi bersih. Langkah ini tidak hanya dapat memberikan manfaat nyata bagi lingkungan, tetapi juga meningkatkan daya saing perusahaan dalam menghadapi tantangan industri di masa depan.
Jika semakin banyak perusahaan di berbagai industri mengambil langkah ini, maka bisa saja target net zero emission yang direncanakan tahun 2060 dapat tercapai lebih awal.***