Scroll untuk membaca artikel
Rizki Nurmansyah | Yosea Arga Pramudita
Selasa, 22 September 2020 | 19:41 WIB
Era (34), warga Jalan Taman Harapan RT 15 RW 03 Cawang, Jakarta Timur, merupakan salah satu warga yang terdampak banjir akibat luapan Sungai Ciliwung, Selasa (22/9/2020). [Suara.com/Yosea Arga Pramudita]

Bagi dia, sudah menjadi risiko sebagai warga bantaran Kali Ciliwung. Banjir, bagi Era, bukan lagi jadi momok, tapi karib yang semakin akrab.

"Saya tinggal di sini dari kecil. Ya sudah risiko tinggal di dekat bantaran kali. Apalagi kalau musim banjir kayak pas Tahun Baru kemarin. Saya lagi hamil besar," kata dia.

Saat banjir menjadi pembuka tahun 2020, Era beserta keluarga ogah mengungsi ke tempat lain. Dia lebih memilih bertahan di lantai dua rumah.

"Kalau di pengungsian itu paling pusing mikirin air bersih dan MCK. Saya juga punya anak kan. Mending gak usah ngungsi. Mending di lantai atas," beber Era.

Baca Juga: BPBD: Ada 40 Kampung di Bogor Terdampak Bencana Longsor dan Banjir

Antara Pandemi Corona dan Banjir

Pandemi Covid-19 hingga kini masih mewabah di Tanah Air. Hari ini, tercatat ada tambahan sebanyak 4.071 kasus. Secara kumulatif kasus Covid-19 di Indonesia kini berjumlah 252.923 kasus.

Pandemi tak berkesudahan tersebut memang ngeri. Tapi, menurut Era, banjir kali ini lebih menakutkan.

"Makanya kalau di luar sana orang-orang pada heboh virus Corona, kalau di sini lebih parah," kata Era seraya bercanda.

Candaan Era itu bukan tanpa alasan. Bagi dia, hidup di tengah pandemi Covid-19 dan tinggal di kawasan banjir adalah kenyataan yang tidak bisa dilerai.

Baca Juga: Curhat Warga Cawang, Jakarta Timur soal Banjir Semalam

Hantu bernama penyakit kulit menjadi salah satu alasannya. Terkadang, Era dan warga di lingkungannya membersihkan sisa banjir tanpa perlengkapan yang mumpuni.

Load More