Kemudian, Sony melanjutkan, perundingan rumah makan gratis itu pun tidak hanya sekali atau dua kali. Namun, perundingan dilakukan berkali-kali.
"Kita memikirkan lokasi rumah makan, konsepnya, hingga nama dari rumah makan itu sendiri. Cukup panjang perundingannya," katanya.
"Perundingan yang cukup panjang dampaknya. Karena rumah makan ini dibangun, jangan sampai niat ibadah justru menjadi riya, dan ingin dipuji," sambungnya.
Selain itu, Sony mengungkapkan, keluarga juga memikirkan persoalan nama setelah kalimat dari rumah makan gratis. Akhirnya sepakat memilih nama uwais.
Nama uwais diambil dari seorang pemuda yang hidup di zaman Nabi Muhammad SAW, yakni Uwais Al-Qarni. Uwais berasal dari penduduk Qarn, wilayah Arab Saudi dekat perbatasan di Yaman.
"Uwais itu adalah hidup di zaman Nabi Muhammad. Dia pemuda yang selalu berbakti kepada orang tua tanpa pamrih. Akhirnya nama itu digunakan agar rumah makan ini bisa terbangun seperti sifatnya," imbuhnya.
Setelah nama itu sudah ditentukan, Sony mengaku, keluarga mencari lokasi yang tepat untuk dibangun rumah makan gratis uwais tersebut.
"Kami sosialisasi ke masyarakat sekaligus survei berbagai lokasi sampai berbulan bulan. Akhirnya ditentukan di Jalan Raya Balaraja Kresek," paparnya.
"Pertimbangan lokasi itu karena masyarakat sekitar juga mendukung. Meskipun awalnya mereka ragu, tapi kami jelaskan bahwa ini murni untuk ibadah akhirnya didukung," lanjutnya.
Baca Juga: Warung Makan Rakyat Gratis di Depok
Bangunan rumah makan gratis uwais berdiri di sebuah ruko yang berukuran luas bangunan 30 X 60 meter luas tanah. Di depan ruko terdapat halaman buat parkiran kendaraan.
Alhasil, tepat pada hari Jumat 4 September 2020 rumah makan gratis uwais dibuka pertama kali.
"Ruko ini kita kontrak selama dua tahun dengan harga Rp 45 juta. Selama dua tahun itu mudah-mudahan kita masih terus istiqomah (konsisten)," pungkasnya.
Rumah makan gratis tersebut dibuka dari pukul 10.30 WIB hingga 16.30 WIB. Namun, Sony menuturkan, selama nasi belum habis, rumah makan tetap buka.
"Jadi kami tutup jam setengah lima sore. Itu biasanya nasi masih cukup banyak, kemudian kami siapkan lauknya lagi dan buka lagi selang setengah jam," sebutnya.
"Maksimal sampai jam 8 malam itu sudah tutup. Kami kan harus persiapkan buat besok lagi karena bukanya setiap hari," sambungnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- WNI Tentara Bayaran Rusia, Rendi Apriyanto Sempat Kirim Duit ke Ortu Tapi Rekening Diblokir
- Operasi Politik Presisi Prabowo: Preteli Siji-siji
- Kekayaan Jusuf Hamka yang Dilaporkan Hary Tanoesoedibjo ke Polisi
- Jaksa Agung Burhanuddin Muncul di Istana, Bantah Bakal Dilantik jadi Jampidum
- 3 Sepatu Lokal Paling Nyaman dan Empuk untuk Jalan Terbaik Menurut Review
Pilihan
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
-
Pemain Timnas Indonesia Dapat Ancaman Pembunuhan
Terkini
-
Viral di Medsos! Penganiayaan Sadis ABK Cumi KM Maulana 23 Terbongkar
-
Dukung Penanganan Karhutla, NHM Serahkan Bantuan Tangki Air Operasional kepada BPBD Halmahera Utara
-
Kawasan Pesisir Jakarta Makin Terhubung, Akses Jadi Pertimbangan Pelaku Usaha
-
BRI Peduli Sahabat Disabilitas Bekali Peserta dengan Pelatihan dan Kesempatan Pemagangan
-
Tips Memilih Sekolah dengan Padukan Fasilitas Akademik dan Pengembangan Karakter Siswa