Scroll untuk membaca artikel
Pebriansyah Ariefana
Senin, 19 April 2021 | 10:26 WIB
Gus Miftah dan istri melakukan pemotongan dua sapi untuk menolak balak. - (YouTube/Gus Miftah Official)

“Saya kalau ketemu pemabuk saya dekati tanpa harus melarangnya. Saya biarkan, namun saya tanya, masih suka mabuk jika masih suka teruskan, sampai pemabuk tersebut memiliki rasa malu dengan sendirinya,” ungkap Gus Miftah.

Cara seperti ini dinilai cukup ampuh untuk memberikan motivasi maupun solusi terkait aktifitas maupun seringnya orang melakukan mabuk.

Gus Miftah pun pernah mendapatkan ungkapan dari salah satu pekerja prostitusi ketika melihat rombongan orang yang akan mengaji. Dalam diri perempuan tersebut terbesit ungkapan enaknya jadi seperti mereka dekat dengan Allah SWT.

Dalam konteks ini, Gus Miftah sendiri menjelaskan jika dalam diri seseorang yang banyak dinilai banyak dosa tapi masih bisa menghormati orang baik. Namun cilakanya orang yang baik justru tidak bisa menghormati orang yang tidak baik.

Baca Juga: Diiming-imingi Rp 500 Ribu, Sejumlah Pelajar Terjebak Prostitusi Online

Tidak boleh bagi kita untuk lebih dulu menilai kejelekan orang, karena pada dasarnya hanya Allah SWT yang mengetahui tingkat keimanan seseorang bukan dari kejelekannya.

Karenanya tidak baik jika orang baik sering memandang sebelah mata ataupun meremehkan orang jelek (berperilaku tidak pada umumnya), seperti ada pekerja café bertato salat di masjid, dimana banyak jamaah yang justru meremehkan orang tersebut.

“Ada orang ingin salat di masjid tapi bertato, orang-orang justru fokus pada tato di tangannya. Hal inilah yang terkadang meremehkan seseorang tanpa melihat niatnya menjalankan ibadah salat karena Allah SWT,” jelasnya.

“Maka saya mengatakan jangan pernah menghina pendosa seolah kamu tidak pernah berbuat dosa, orang baik didatangi orang jelek terkadang selalu meremehkan.” tambahnya.

Baca Juga: Santap Mi Instan, Kisah Pria Berpenampilan Preman Ini Sukses Bikin Haru

Load More