Dia menceritakan telah merasakan kerasnya kehidupan di jalanan. Dirinya mengaku kerap melancarkan aksi kriminal.
Saat menjadi preman, dia sering bersinggungan dengan lawannya. Pertumpahan darah karena sabetan benda tajam dan tumpul pun pernah dia rasakan.
Hidayat yang dulu terkenal garang dan disegani oleh kalangannya. Pengikutnya pun juga banyak.
"Di Pasar Induk Tanah Tinggi itu saya dulu menjadi penguasa. Tapi itu dulu sekarang saya sudah taubat," tuturnya.
Pengalaman di masa mudanya membuat Hidayat terpikirkan untuk membantu menjembatani anak jalanan kembali ke jalan yang benar.
Awalnya, Hidayat melakukan pendekatan dengan berdandan ala anak jalanan. Bertahun-tahun ia melakukan pendekatan kepada para anak jalanan itu.
Bahkan tak jarang dirinya mendapatkan tantangan saat mencoba melakukan pendekatan tersebut.
Meski begitu, ia tak menyerah dan terus melakukan pendekatan hingga mereka merasakan titik jenuh dalam kehidupannya hingga akhirnya ingin bergabung ke Majelis Preman ini.
"Bertahun-tahun kita tunggu titik jenuh, sampai akhirnnya mereka ingin berubah. Kalau mereka belum punya keinginan berubah kita tidak paksa, karena percuma. (Jadi) Ada yang gampang banget, ada yang datang sendiri, ada yang justru agak susah, ada (pula) yang nantang," kata Hidayat.
Baca Juga: Kemendikbud Akui Salah Soal Hilangnya Nama Pendiri NU dalam Kamus Sejarah
"Jadi pendekatan kayak ayah dan anak, belajar mendengar keluhan-keluhan itu dan menggali potensi mereka," imbuhnya.
Dalam proses pengajarannya, anak-anak jalanan ini diajarkan beretika terhadap orang lain. Hidyat mengakui bahwa ia tidak banyak memberikan ilmu-ilmu syariat agama.
Karena menurutnya, hal yang penting saat ini membangunkan pola berpikir anak jalanan tersebut. Agar mampu memahami adab dan etika terhadap orang lain.
"Saya hanya ajarkan adab sih, enggak lebih. Rata-rata mereka dianggap kriminal, makanya saya tekankan adab," ucap Hidayat sambil tersenyum.
Pelajaran mengenai adab ini seperti yang telah dilakukan para ulama terdahulu. Contohnya Imam Malik RA yang menekankan pentingnya mendahulukan adab daripada ilmu.
"Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu," demikian perkataan Imam Malik yang pernah disampaikan kepada seorang pemuda Quraisy.
Tag
Berita Terkait
-
Merayakan 1 Muharram, Semangat Hijrah yang Relevan dalam Dunia Usaha
-
Hijrah Finansial Ivan Gunawan: Rela Tutup 11 Kartu Kredit demi Ketenangan Hati
-
Ketika Hijab Terasa Berat: Panduan Hati bagi Muslimah yang Sedang Berproses
-
Sopir Truk Transfer Uang Setelah Dikepung Anak Jalanan di Pesanggrahan, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
-
Ulasan Film 172 Days: Kisah Romansa Hijrah yang Menyentuh Hati dan Iman
Terpopuler
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- Daripada Nyicil BeAT: Ini 5 Motor Keren Murah Bertenaga untuk Pelajar, Harga Mulai 5 Jutaan Saja
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
- Suzuki Burgman 15 Sudah Ada di Dealer, Skutik Penantang NMAX dengan Layar TFT dan Traction Control
Pilihan
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
Terkini
-
Sambut World Ocean Day, Novotel Greater Jakarta Menggelar Ciliwung River Education & Cleanup
-
Swiss-Belresidences Kalibata Hadirkan Liburan Sekolah Lebih Ceria bersama SBEC Juniors
-
FIFGROUP Raih Penghargaan CSR Nasional Berkat Program Berkelanjutan dan Berdampak
-
Mas Dhito Lepas 126 Siswa Boarding School Passing Grade Terbaik untuk Masuk Perguruan Tinggi
-
Spesifikasi dan Harga AirPods 4 Terbaru Evolusi TWS Open-Ear Terbaik Apple