SuaraJakarta.id - Hujan yang turun pada sore hari, tidak membuat para jemaah Ahmadiyah patah semangat untuk mempersiapkan takjil atau santapan berbuka puasa bagi para masyarakat sekitar dan para jamaah Masjid Al Mubarak di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Dua meja panjang dipasang. Terlihat berbagai makanan dan minuman diatasnya, mulai dari es buah hingga minuman hangat. Di meja tersebut terlihat tulisan "Kaum Ibu" dan "Kaum Bapak", untuk membedakan antara laki-laki dan perempuan.
Masjid Al Mubarak sudah berdiri sejak 1958. Masjid itu didirikan oleh salah seorang jawara bernama Saban usai ia dibaiat menjadi anggota Ahmadiyah di Petojo, Jakarta Pusat.
Menurut anak keturunan Saban, Zainudin menyebut alhamarhum ayahnya memiliki banyak tanah di wilayah Jagakarsa. Mengingat mendiang merupakan seorang jawara.
Zainudin mengaku mulanya Masjid Al Mubarak berukuran 7x9 meter. Masjid itu berdiri di tengah kebun dan sawah yang terhampar.
"Dulu ya cuma masjid ini yang berdiri, tapi dulu cuma sekitar 7x9 meter luasnya," cerita Zainudin kepada Suara.com, di Masjid Al Mubarak, Minggu (3/4/2022).
Masjid ini sejak awal memang didirikan untuk para jamaah Ahmadiyah. Namun bukan berarti masyarakat sekitar atau yang bukan merupakan jemaah ahmadiyah tidak dapat menggunakan masjid itu untuk beribadah.
Adzan magrib berkumandang, tanda umat muslim berbuka puasa. Para jemaah Ahmadiyah pun membatalkan puasa mereka dengan meneguk perlahan minuman yang sebelumnya telah disediakan.
Satu per satu, masyarakat sekitar yang berprofesi sebagai tukang parkir, datang menghampiri meja untuk turut mencicipi hidangan yang telah disediakan.
Usai membatalkan puasa, para jamaah mengambil wudhu, dan bersama menjalani ibadah salat berjamaah di masjid yang bergaya timur tengah tersebut. Tidak ada yang aneh dalam ibadah jemaah Ahmadiyah.
Mereka salat dengan tertib, mengikuti arahan imam. Bersujud dengan khusuk kepada sang khalik di atas lantai yang bermotif kayu.
Diserang FPI
Usai salat, Zainudin melanjutkan ceritanya. Meski Ahmadiyah dinyatakan sesat menyesatkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada periode 2001-2007, namun tak membuat Zainudin bersama jemaah lainnya menjadi gusar. Ia tetap menjalankan apa yang ia yakini.
Berbuat baik dengan sesama menjadi tolak ukurnya agar menjadi manusia yang berguna.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Pengakuan Lengkap Santriwati Korban Pencabulan Kiai Ashari di Lingkungan Pesantren Pati
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 7 Sepatu Lari Lokal untuk Jalan Jauh dan Daily Run Mulai Rp100 Ribuan, Tak Kalah dari Hoka
- 5 HP Terbaru 2026 untuk Budget di Bawah Rp3 Juta, Ada yang Support 5G dan NFC
Pilihan
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
Terkini
-
7 Sepatu Lari Lokal Paling Underrated 2026: Kualitasnya Dipuji Runner, Tapi Masih Jarang Dilirik
-
Sepatu Lari Lokal Makin Viral, Tapi 5 Hal Ini Masih Bikin Sebagian Runner Ragu?
-
Deretan Elite Penegak Hukum dan Pejabat Hadir di Pelantikan PERADI Profesional
-
Anomali Pasar Properti Mewah, Vila Puluhan Miliar di BSD City Ludes Terjual
-
Bamsoet dan Erick Thohir Soroti Kepemimpinan Jerry Hermawan Lo