Scroll untuk membaca artikel
Fabiola Febrinastri
Sabtu, 24 September 2022 | 11:12 WIB
Pos Indonesia menyalurkan BLT BBM kepada warga di daerah 3T. (Dok: Pos Indonesia)

"Alhamdulillah mendapatkan bantuan tidak susah. Uang bantuan ini akan dipakai untuk kebutuhan rumah, dan anak sekolah. Kami sangat terbantu dengan bantuan ini. Kalau penyaluran yang dulu, kami harus pergi ke kecamatan, transportasi pulang pergi Rp80 ribu, belum makan di sana. Uangnya jadi berkurang. Kalau sekarang petugas Pos datang ke pulau. Kita tinggal datang, dan antre. Alhamdulillah uangnya diterima utuh Rp500 ribu," kata Rusmiana tersenyum gembira.

Ia berharap, harga sembako dan kebutuhan pokok lainnya tidak mahal dan bantuan lebih merata diberikan kepada masyarakat. 

KPM lainnya, Mazlan, warga Pulau Pelampong, Kota Batam, menuturkan akan menggunakan uang BLT BBM untuk membeli sembako, dan untuk biaya transportasi saat membeli sembako. 

Mazlan sempat mencurahkan isi hatinya kepada pemerintah.

Baca Juga: Pos Indonesia Perkenalkan ULBI, Kampus Logistik Pertama di Indonesia

"Kalau bisa untuk Pulau Pelampong diberi pengecualian, harga BBM jangan 10 ribu per liter. Seperti kemarin Rp7 ribuan kami masih bisa bertahan. Sekarang kami tidak bisa melaut jauh karena terkendala BBM," katanya.

Walau begitu, Mazlan tetap berterima kasih atas perhatian yang diberikan pemerintah melalui penyaluran BLT BBM dan bansos sembako.

"Terima kasih kepada pemerintah telah memberikan bantuan BLT BBM. Mudah-mudahan ini membantu meringankan beban kami," tuturnya.

Latipah, KPM dari Kecamatan Belakang Padang, Kota Batam, juga tak kalah bahagia menerima BLT BBM. Perempuan paruh baya ini sehari-hari mengajar les untuk anak kelas 1-5 SD. Tak banyak anak yang menjadi muridnya, hanya sekitar lima orang. 

"Saya kegiatan sehari-hari mengajar les untuk anak-anak kelas 1-5 SD, menerima bayaran total Rp400 ribu per bulan. Saya hidup seorang diri karena suami sudah meninggal," kata Latipah.

Baca Juga: Gaungkan Menanam AKHLAK, Pos Indonesia Tanam 27.600 Pohon Serentak di Seluruh KCU

Diakuinya perekonomian terasa semakin sulit, terutama pada masa pandemi. Apalagi fisiknya tidak normal, karena Latipah sejak 20 tahun lalu tidak bisa berjalan. Keharuan Latipah bertambah ketika ia menerima bantuan dari pemerintah. Baginya uang ini dapat meringankan kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Load More