-
Jurnalisme investigasi berfungsi sebagai penjaga demokrasi dengan mengungkap fakta yang tersembunyi, menuntut jurnalis punya mindset skeptis dan ingin tahu.
-
Isu investigasi harus memenuhi tiga syarat mutlak: berdampak luas (kepentingan publik), ada pelanggaran hukum, dan ada upaya penutupan yang sistematis.
-
Teknik pengumpulan data melibatkan jejak uang dan orang. Sumber kunci sering berasal dari orang dalam atau "barisan sakit hati"; utamakan kebenaran substansial, bukan viral.
SuaraJakarta.id - Di era banjir informasi peran jurnalisme tidak lagi sekadar melaporkan apa yang terjadi, melainkan sudah berpikir mengapa itu terjadi dan siapa yang bermain di belakangnya.
Pada pertemuan yang diinisiasi oleh Ekuatorial.com, The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ), dan Responsibank di Jakarta, Sabtu-Minggu 29-30 November 2025, pemikiran tersebut turut dibedah bersama dengan perwakilan jurnalis se Nusantara.
Jurnalis senior dari Suara.com, Chandra Iswinarno sekilas berbagi pengalaman hingga menjawab soal dapur redaksi bekerja untuk membongkar skandal besar yang tertutup rapat.
Menurutnya, investigasi adalah seni mengungkap fakta yang sengaja disembunyikan. Kuncinya bukan hanya pada keberanian, tetapi pada pola pikir atau mindset yang selalu skeptis.
"Banyak contoh kasus kalau investigasi soal isu yang janggal. Namun kita harus menerapkan pemikiran bahwa kita jurnalis selalu berpikir ingin tahu dan curiga," kata Chandra.
Tidak semua berita kriminal atau korupsi layak disebut investigasi. Chandra menggarisbawahi tiga indikator utama yang harus dicatat oleh jurnalis yang kritis sebelum sebuah isu diangkat menjadi liputan mendalam.
Mulai dari kepentingan publik, apakah isu tersebut berdampak luas bagi hajat hidup orang banyak.
Kemudian lanjut Chandra soal pelanggaran hukum hingga kasus tersebut ditutupi agar publik tidak tahu.
"Jika unsur ini terpenuhi, maka lampu hijau investigasi menyala," ujarnya.
Baca Juga: Bongkar Aliran Dana Energi Hijau: Jurnalis Nusantara Asah Senjata 'Follow The Money' di Jakarta
Chandra pun memaparkan teknik pengumpulan data yang sistematis. Mulai dari mencari jejak uang, memetakan hubungan kekerabatan bisnis, hingga jelajah dokumen publik maupun rahasia.
Siklus kerjanya pun tidak sembarangan. Dimulai dari pengumpulan data awal, perencanaan matang, pengumpulan data lapangan, verifikasi, konfirmasi, hingga tahap produksi.
"Semuanya harus terukur agar tidak menjadi fitnah," ucapnya.
Salah satu poin menarik yang dibocorkan Chandra adalah mengenai sumber informasi. Seringkali, bocoran dokumen atau info A1 bukan datang dari hasil riset semata, melainkan dari informan hidup.
Chandra menyebutkan bahwa sumber informasi bisa berasal dari orang dalam, mantan orang dalam dan yang paling potensial adalah barisan sakit hati.
"Mereka adalah orang-orang yang pernah berada di lingkaran kekuasaan namun tersingkir atau dikecewakan, sehingga memiliki motif kuat untuk membuka kotak pandora," jelas dia.
Berita Terkait
-
Bongkar Aliran Dana Energi Hijau: Jurnalis Nusantara Asah Senjata 'Follow The Money' di Jakarta
-
Larang Perdagangan Daging Anjing dan Kucing, DMFI Apresiasi Langkah Progresif Gubernur DKI
-
10 City Car Bekas untuk Mengatasi Selap-Selip di Kemacetan bagi Pengguna Berbudget Rp70 Juta
-
Benarkah SMAN 72 Jakarta Ditinggalkan Siswa Pasca Ledakan? Ini Fakta Mengejutkan dari Bang Doel
-
Maut Siswa di Kolong JakLingko, Gubernur Pramono Anung: Kami Akan Bertanggungjawab
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Sunscreen Menghilangkan Flek Hitam Usia 40 Tahun
- 5 Sunscreen untuk Hilangkan Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- 4 Mobil Keluarga Bekas 50 Jutaan: Mesin Awet, Cocok Pemakaian Jangka Panjang
- Purbaya Temukan Uang Ribuan Triliun Milik Jokowi di China? Kemenkeu Ungkap Fakta Ini
- 5 Bedak Murah Mengandung SPF untuk Dipakai Sehari-hari, Mulai Rp19 Ribuan
Pilihan
-
KLH Gugat 6 Perusahaan Rp 4,8 Trliun, Termasuk Tambang Emas Astra dan Toba Pulp Lestari?
-
Bursa Transfer Liga Inggris: Manchester United Bidik Murillo sebagai Pengganti Harry Maguire
-
John Herdman Termotivasi Memenangi Piala AFF 2026, Tapi...
-
Purbaya Sebut Bisnis Sektor Media Cerah: Saham DIGI, TMPO, dan VIVA Langsung Ceria
-
Dari 'Kargo Gelap' Garuda ke Nakhoda Humpuss: Kembalinya Ari Askhara di Imperium Tommy Soeharto
Terkini
-
Cek Fakta: Benarkah Trump Bilang AS Tak Butuh PBB dan Hanya Takut Tuhan?
-
Malam 27 Rajab Jangan Terlewat, Ini Doa Lengkap Arab-Latin, Waktu Baca & Tata Caranya
-
Lima Hari Tanpa Kabar dari Iran, Orang Tua WNI Hanya Bisa Berdoa Menunggu Pesan Anak
-
Pengakuan Jokowi Usai Pertemuan Tertutup dengan Tersangka Ijazah Palsu di Solo
-
Cek Fakta: Benarkah Jokowi Berharap Tak Dipenjara Jika Ijazahnya Palsu?