Tasmalinda
Kamis, 08 Januari 2026 | 16:14 WIB
Aksi perempuan Palembang yang menyamar menjadi pramugari
Baca 10 detik
  • Seorang perempuan Palembang menyamar jadi pramugari Batik Air karena gagal seleksi dan tekanan menjaga harga diri keluarga.
  • Penyamaran terbongkar di bandara akibat ketidaksesuaian detail seragam serta tidak adanya nama di daftar kru.
  • Aksi ini memicu perdebatan publik mengenai bahaya tekanan sosial versus efektivitas sistem keamanan bandara.

SuaraJakarta.id - Kisah seorang perempuan asal Palembang yang nekat menyamar menjadi pramugari Batik Air mendadak menyedot perhatian publik. Bukan hanya karena aksinya yang nekad, tetapi juga karena alasan personal di balik penyamaran tersebut yang membuat publik menjadi geram sekaligus iba.

Dalam pengakuannya pada petugas, perempuan asal Sumatera Selatan (Sumsel) tersebut diketahui memiliki mimpi lama menjadi pramugari. Ia bahkan sempat mencoba peruntungan dengan mengikuti seleksi awak kabin. Namun upaya itu tak membuahkan hasil. Kegagalan tersebut disebut menjadi titik awal tekanan psikologis kepada keluarga.

Masalah bermula ketika ia mengaku kepada keluarga dan orang terdekat telah bekerja sebagai pramugari. Pengakuan itu awalnya hanya untuk menjaga harga diri. Namun seiring waktu, kebohongan tersebut justru membelenggu. Ia merasa sulit menarik kembali cerita yang sudah terlanjur dipercaya banyak orang.

Dalam kondisi tertekan dan diliputi rasa malu, ia memilih jalan berisiko: mengenakan seragam pramugari agar pengakuannya terlihat nyata. Ia disebut berangkat dari Palembang dengan pakaian tersebut dan berniat berganti sebelum penerbangan. Namun situasi di bandara membuat rencana itu berantakan.

Penyamaran itu tak berlangsung lama. Detail kecil pada seragam, mulai dari motif batik yang tak sepenuhnya identik hingga atribut yang kurang presisi, memicu kecurigaan kru berpengalaman. Saat dilakukan pengecekan, namanya tak tercantum dalam manifest awak kabin, sebuah fakta yang langsung membongkar kedoknya.

Petugas Aviation Security (Avsec) kemudian mengamankan perempuan tersebut untuk dimintai keterangan. Dari pemeriksaan awal, dipastikan bahwa tidak ada niat melakukan kejahatan atau menyusup ke area terlarang. Aksi itu murni dipicu masalah personal dan tekanan sosial.

Kasus ini memantik perdebatan luas di media sosial. Sebagian warganet menyatakan iba, menilai tekanan sosial dan tuntutan sukses sering kali mendorong seseorang mengambil keputusan keliru. Namun tak sedikit pula yang mengecam, karena penyamaran di area bandara dinilai berbahaya dan tak bisa ditoleransi apa pun alasannya.

Meski berakhir tanpa insiden serius, kasus ini menjadi pengingat penting. Di satu sisi, sistem keamanan bandara terbukti bekerja dengan baik karena mampu membaca kejanggalan kecil. Di sisi lain, publik dihadapkan pada realitas pahit bahwa tekanan sosial bisa mendorong seseorang melampaui batas nalar.

Kini, perempuan tersebut masih menjalani proses pemeriksaan lebih lanjut. Apa pun akhirnya, kisah ini meninggalkan pesan kuat yakni kebohongan kecil yang dipelihara terlalu lama bisa berujung pada konsekuensi besar.

Baca Juga: Viral Aksi Wanita Nyamar Jadi Pramugari Batik Air, Begini Kronologi dan Motifnya

Load More