Rully Fauzi
Jum'at, 27 Februari 2026 | 05:25 WIB
Praktisi aviasi Dian Ediono. [dok.pribadi]
Baca 10 detik
  • Rencana merger Garuda Indonesia, Pelita Air, dan Citilink dinilai berisiko menghapus identitas masing-masing maskapai dan belum tentu memperkuat strategi industri.

  • Praktisi mengusulkan konsep 1 Group 3 Tier berbentuk piramida: Garuda (premium), Pelita Air (mid-service), dan Citilink (LCC) agar saling melengkapi tanpa kanibalisme internal.

  • Model ini diyakini memperkuat sinergi operasional, efisiensi biaya, serta daya saing maskapai nasional dalam menghadapi kompetitor asing dan memperluas pasar penumpang.

Dengan layanan yang terjangkau namun premium, layanan Pelita Air sangat cocok untuk para pelanggan yang membutuhkan penerbangan medium service dengan harga terjangkau. 

Sedangkan pada bagian bawah, yaitu Citilink, sebagai The Value Engine.

Sebagai maskapai berbiaya hemat (LCC) di bawah Garuda Indonesia Group, terutama menggunakan armada pesawat Airbus A320 (baik tipe CEO maupun NEO) untuk penerbangan domestik dan internasional jarak pendek-menengah. 

"Dengan menawarkan harga yang lebih terjangkau, para pelanggan yang menyukai perjalanan santai sangat cocok untuk para pekerja atau pelanggan yang sensitif terhadap harga tiket," ujarnya.  

Mengapa Konsep 1 Group 3 Tier Perlu Jadi Fundamental Penerbangan? 

Dari konsep di atas, pastinya akan timbul pertanyaan di benak Anda.

"Apakah maskapai Indonesia perlu memperhatikan kelas layanan sesuai dengan calon penumpangnya?" Jawabannya adalah sangat penting. 

Konsep 1 Group 3 Tier maskapai bukan sekadar strategi yang saling menguntungkan bagi tiga maskapai—Garuda Indonesia, Pelita Air, dan Citilink—melainkan juga menjadi bentuk sinergi operasional sekaligus strategi pertahanan menghadapi kompetitor.

Dari sisi operasional, kolaborasi ini tidak hanya menjawab pertanyaan tentang bagaimana mengatasi kompetisi internal, tetapi juga menghadirkan solusi yang lebih hemat dan efisien dalam pengelolaan fasilitas perawatan.

Melalui integrasi MRO, sentralisasi pengadaan, infrastruktur IT, serta pelatihan pilot dan kru, ketiga maskapai dapat saling memperkuat kualitas layanan—mulai dari kesiapan armada hingga pengalaman pelanggan.

Sementara itu, dalam konteks strategi pertahanan, sinergi ini memperkuat posisi maskapai nasional sebagai pilihan utama masyarakat, sekaligus membatasi ruang gerak kompetitor untuk memonopoli pasar penerbangan di Indonesia.

Dengan demikian, konsep 1 Group 3 Tier merupakan langkah strategis untuk menavigasi lanskap industri penerbangan Indonesia yang kompleks.

Dukungan penuh terhadap integrasi entitas yang berbeda namun saling melengkapi ini menjadi kunci untuk memastikan masa depan penerbangan nasional yang lebih kuat dan berkelanjutan.

"Sebagai penutup, saya ingin menegaskan bahwa saat ini maskapai nasional tidak membutuhkan penggabungan yang menyederhanakan pasar, melainkan untuk memperluas pasar kepada seluruh segmen penumpang," kata Dian Ediono.

"Dengan konsep 1 Group 3 Tier ini, selain memperkuat layanan udara nasional, memperluas kapasitas nasional dan menjaga ciri khas serta keberagaman dari masing-masing maskapai, tentunya sektor penerbangan nasional dapat terus mendukung agenda besar pemerintah dalam menciptakan konektivitas udara yang inklusif serta berkelanjutan ke depannya," tukasnya.

Load More