Tasmalinda
Minggu, 22 Maret 2026 | 23:38 WIB
ilustrasi tradisi amplop thr lebaran.
Baca 10 detik
  • Tradisi pemberian uang Lebaran berubah dari amplop fisik menuju angpao digital karena pertimbangan efisiensi dan kepraktisan.
  • Beberapa pihak menilai amplop tunai mempertahankan kehangatan interaksi sosial yang mungkin hilang dalam transaksi digital.
  • Keluarga kini mulai menerapkan solusi kombinasi, memberikan amplop fisik untuk anak-anak dan transfer digital untuk generasi muda.

SuaraJakarta.id - Pemandangan Lebaran dulu begitu khas seperti anak-anak berbaris rapi, tangan kecil terulur, lalu satu per satu menerima amplop tipis berwarna cerah. Ada senyum, ada rasa penasaran, dan ada momen membuka amplop diam-diam di sudut rumah.

Namun kini, momen itu mulai berubah. Di tengah perkembangan teknologi, muncul “cara baru” dalam tradisi bagi-bagi THR yakni angpao digital. Tanpa amplop, tanpa uang fisik namun cukup satu klik, saldo langsung masuk.

Praktis, cepat, tapi juga memunculkan perdebatan: apakah kehangatan tradisi mulai tergeser?

Raka (28), karyawan swasta di Jakarta, mengaku tahun ini lebih memilih membagikan THR lewat dompet digital. “Lebih simpel. Nggak perlu ke ATM, nggak ribet nyiapin uang kecil,” ujarnya.

Menurutnya, di tengah mobilitas tinggi, cara ini jauh lebih efisien. “Tinggal kirim, selesai. Apalagi kalau saudara jauh, ini paling masuk akal,” katanya.

Fenomena ini semakin terlihat, terutama di kalangan generasi muda yang sudah terbiasa dengan transaksi digital.

Namun tidak semua sepakat. Bagi sebagian orang, amplop THR bukan sekadar wadah uang—melainkan bagian dari pengalaman Lebaran itu sendiri.

“Rasanya beda. Kalau dapat amplop, ada deg-degannya,” kata Dinda (19), mahasiswa.

Ia mengaku masih lebih suka menerima uang tunai dibanding transfer digital. “Kalau digital, langsung tahu jumlahnya. Nggak ada ‘kejutan’,” ujarnya sambil tertawa.

Baca Juga: Lebaran Asyik di Jakarta: Keliling Dunia dalam Satu Kawasan, Tanpa Macet-macetan Keluar Kota

Sosiolog menilai perdebatan ini bukan sekadar soal metode, tapi soal makna. Amplop THR itu simbol. Ada interaksi, ada sentuhan, ada momen memberi dan menerima secara langsung.

Ketika tradisi berpindah ke digital, sebagian nilai tersebut bisa berkurang.

Meski demikian, perubahan ini dianggap sebagai hal yang tidak terhindarkan. Generasi muda tumbuh di era serba cepat dan efisien. Bagi mereka, nilai praktis sering kali lebih penting.

Di satu sisi, angpao digital menawarkan kemudahan sedangkan amplop klasik menyimpan kenangan.

Banyak keluarga kini mencoba jalan tengah yakni menggabungkan keduanya. Anak-anak yang lebih kecil tetap diberi amplop, sementara yang lebih dewasa menerima transfer.

Lebaran selalu berkembang mengikuti zaman. Dari yang serba manual, kini perlahan beralih ke digital. Namun satu hal yang tidak berubah: semangat berbagi.

Load More