Tasmalinda
Selasa, 02 Juni 2026 | 23:25 WIB
Mengapa Jakarta masih berpotensi hujan saat musim kemarau?
Baca 10 detik
  • BMKG memprakirakan wilayah Jakarta Timur berpotensi mengalami hujan disertai petir pada Rabu, 3 Juni 2026 siang hingga sore.
  • Masyarakat diimbau waspada terhadap risiko angin kencang, pohon tumbang, serta penurunan jarak pandang saat beraktivitas di luar ruangan.
  • Dinamika atmosfer aktif memicu hujan lokal di masa kemarau akibat pemanasan permukaan kuat serta tingginya kelembapan udara harian.

SuaraJakarta.id - Warga Jakarta Timur diminta meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas pada Rabu (3/6/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan wilayah tersebut berpotensi mengalami hujan yang disertai petir, sementara sebagian wilayah DKI Jakarta lainnya diprediksi didominasi cuaca cerah hingga berawan.

Kondisi cuaca yang berubah dalam waktu singkat ini menjadi perhatian, terutama bagi masyarakat yang memiliki aktivitas di luar ruangan pada siang hingga sore hari.

Meski saat ini sebagian wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau, BMKG mengingatkan bahwa potensi hujan masih dapat terjadi akibat dinamika atmosfer yang masih aktif. Bahkan, hujan yang turun berpotensi disertai kilat atau petir serta angin kencang di sejumlah wilayah.

Pagi Cerah, Siang hingga Sore Berpotensi Berubah

Berdasarkan prakiraan cuaca, Jakarta diperkirakan memulai hari dengan kondisi relatif cerah hingga berawan. Namun memasuki siang dan sore hari, pembentukan awan hujan masih memungkinkan terjadi di beberapa wilayah, termasuk Jakarta Timur yang disebut berpotensi mengalami hujan disertai petir.

Kondisi seperti ini umum terjadi pada masa peralihan musim, ketika pemanasan udara pada siang hari memicu pembentukan awan konvektif yang dapat berkembang menjadi hujan lokal dengan intensitas beragam.

Karena itu, masyarakat yang berencana beraktivitas di luar ruangan disarankan menyiapkan perlengkapan pendukung seperti payung atau jas hujan, terutama pada sore hari.

Mengapa Masih Hujan Saat Musim Kemarau?

Banyak warga bertanya-tanya mengapa hujan masih turun meski sebagian wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau.

Baca Juga: Salat Idul Adha di Jakarta Berpotensi Diguyur Hujan Lokal, BMKG Minta Warga Waspada

BMKG menjelaskan bahwa musim kemarau tidak selalu berarti cuaca sepenuhnya kering. Pada masa peralihan, berkurangnya tutupan awan pada pagi hingga siang hari justru membuat pemanasan permukaan berlangsung lebih kuat. Jika kelembapan udara masih cukup tinggi, kondisi tersebut dapat memicu pembentukan awan hujan pada sore hingga malam hari.

Selain itu, BMKG juga mencatat bahwa dinamika atmosfer, termasuk aktivitas gelombang atmosfer dan faktor cuaca regional, masih berkontribusi terhadap munculnya hujan di sejumlah wilayah Indonesia.

Warga Diminta Tetap Waspada

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap memantau perkembangan cuaca terkini, terutama bagi pengendara dan warga yang beraktivitas di area terbuka.

Hujan yang disertai petir dan angin kencang berpotensi mengganggu perjalanan, mengurangi jarak pandang, hingga meningkatkan risiko pohon tumbang di beberapa lokasi.

Masyarakat juga diimbau menghindari berteduh di bawah pohon besar saat terjadi hujan petir dan memastikan saluran air di lingkungan sekitar tetap berfungsi dengan baik guna mengantisipasi genangan.

Load More